Ratusan Siswa SD Di Kalmas Pangkep Terlantar

oleh
40 guru sedang melakukan tes audisi guru di gedung kantor Disdik kecamatan Pangkajene, di Jalan Cendana Timur Kelurahan Padoang-Doangan Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep

Pangkep, Suaralidik.com – Potret pendidikan di pelosok daerah di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) jauh dari kata layak. Banyak sekali kendala yang membuat anak-anak kepulauan terluar Pangkep tak bisa belajar dengan baik. Mulai dari sarana prasarana yang tidak memadai, akses transportasi, dan lebih para lagi para gurunya lebih betah berada di kota ketimbang berada di tempat tugasnya di pulau meski murid muridnya terlantar lantaran hanya di ajar oleh guru honorer saja.

Seperti yang terjadi di Sekolah Sekolah Dasar Negeri yang ada di Kecamatan Liukang Kalmas Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Kegiatan belajar mengajar terganggu karena para guru meninggalkan tugas mereka sebagai pengajar di pulau diantaranya ada yang pergi ke kota Makassar dan kota Pangkep.

Salah seorang warga kecamatan Liukang Kalmas, Haris mengatakan sejak liburan sekolah ramadhan lalu para guru guru tersebut yang mengajar disejumlah pulau se Kecamatan Liukang Kalmas hingga saat ini belum kembali mengajar dipulau karena masih berada di kota Makassar dan kota Pangkep, sehingga para siswa tersebut terpaksa hanya diajar oleh guru honorer yang kebetulan berdomisili lahir ditempat tersebut.

“Sudah satu minggu terakhir, hanya ada satu orang tenaga guru honor yang mengajar seluruh siswa SD Negeri 14 massalima. Itu pun karena guru itu menetap di kampung tersebut. Sedangkan tiga guru lainnya, termasuk kepala sekolah dikabarkan pergi ke kota dengan alasan ada urusan penting sehingga tugasnya di sekolah ditinggalkan.” terangnya

Hal ini dibenarkan oleh H. Amrullah kepala pengawas SD Kecamatan Liukang Kalmas, ia menyebutkan saat ini ada 40 guru se kecamatan Liukang Kalmas berada di kota Pangkep dengan dalih mereka tertahan didaratan sejak lebaran lalu karena tak ada kapal yang bisa mengantarkan mereka dari pelabuhan Paotere Makassar ke Pulau Liukang Kalmas sebab Syahbandar Makassar tidak mengisinkan kapal kapal barang dan nelayan mengangukut penumpang ke kepulaun terluar Liukang Kalmas Pangkep.

“kami sudah ingin keluar kepulau bertugas tapi hingga saat ini tak ada kapal yang bisa di tumpangi kesana karena syahbandar Makassar melarang kapal barang dan nelayan tradisional mengangkut penumpang sehingga kami mengisi kegiatan dengan melakukan audisi bagi para guru di Pangkajene”. Kilahnya.

Untuk itu Amrullah dan sejumlah guru Kalmas meminta kepada pemerintah kabupaten Pangkep untuk segera menyiapkan kapal kepada para guru keluar di Kalmas bertugas mengajar kembali disekolah masing masing. Amrullah bahkan menawarkan kapal nelayannya saat ini dirubah menjadi kapal penumpang asalkan biaya balik nama ijin berlayar dari kapal nelayan ke kapal penumpang serta bahan bakar minyaknya (BBM) di subsidi oleh pemerintah kabupaten Pangkep sebab biaya sewa kapal untuk penumpang tak sebanding dengan biaya BBM yang dikeluarkan hingga sampai tujuan Makassar – Kalmas begitupun sebaliknya.

“Saya siap merubah kapal nelayanku menjadi kapal penumpang hanya saja biaya ijinnya mencapai Rp.6 juta dan bahan bakar mahal sehingga kalau hanya muat penumpang pasti akan merugi, kecuali pemerintah mau memberikan subsidi BBM kepada kami agar tidak merugi.” Pungkas Amrullah.

Dari Pantauan awak media nampak sebanyak 40 guru sedang melakukan tes audisi guru di gedung kantor Disdik kecamatan Pangkajene, di Jalan Cendana Timur Kelurahan Padoang-Doangan Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep. Ke 40 guru tersebut sedang diberi tes tertulis oleh para pengawas kecamatan Pangkajene. (86-KP)