Retakan ke Enam (Novel Debu) Karya Darah Mimpi

oleh

Aku demam. Satu kata yang terungkap dari dalam lubuk hatiku. Hari ini, aku berdiam diri di beranda rumah. Aku duduk di anak tangga lantai pertama.  Kepalaku mendongak menatap awan yang berarak-arak. Seperti ombak di tepian pantai biru yang membentang luas. Ombak itu lantas ditiup angin dalam belaian cahaya. Tak ada satu pun burung yang mengepakkan sayapnya di pusarnya. Awan jahat pun tak nampak. Bahkan pesawat terbang juga tak melintasi jalur udara di atas rumahku. Mentari setengah badan di sebelah Barat. Kunikmati hari cerah ini dengan tatapan kusam yang menyedihkan. Kepalaku pusing tak keruan. Hidungku mampat dan tersumbat. Napasku setengah-setengah. Kepalaku pusing tak tertahankan. Jika aku bangkit, maka benda yang kutatap akan beranak-pinak. Batuk pun tak mau telat menyempurnakan penderitaanku.

Tadi pagi aku tidak mengantarkan Faisal sekolah. Bukan hanya tadi pagi tapi sudah lewat lima hari lebih. Tubuhku rapuh dalam selimut demam. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain rebahan di atas kapas yang dibungkus seprai itu. Sebangunku lima hari yang lalu bersaksikan senja, aku tak ingat apa-apa. Yang jelas, ketika itu di hadapanku sudah ada Rita, Faisal, Ayah, dan Ibu yang berwajah menyebalkan. Faisal duduk di atas ranjangku, ia membelai keningku. Matanya berkaca-kaca. Sementara Rita hanya memandangku dengan tatapan datar, aku sukar mengartikannya. Malas aku berpikir panjang sore kemarin. Yang kutahu, aku hanya ingin tidur menjemput tabir mimpiku.

“Kau pingsan di kamar mandi,” suara lembut Rita terbuka.

“Iya, Mas Tama tadi tidul di kamal mandi, Mas Tama jadi demam deh,” Faisal berkicau menguatkan argumen Rita.

“Tadi dokter memeriksamu. Katanya kau hanya meriang dan kelelahan,” seloroh Ayah yang berdiri di sisi ranjang.

“Besok hujan-hujanan lagi biar merepotkan banyak orang!” hardik Ibu lalu keluar dari dalam kamarku. Tinggal Ayah dan Rita serta Faisal yang menemaniku.

Kejadian senja kemarin mengendap dalam benakku. Aku tak bisa melupakan perkataan pahit Ibu. Aku mendadak merasa seperti benalu yang harus dicampakkan. Menyedihkan sekali. Rumahku sepi. Tidak ada kicauan bawel mulut Faisal. Ia belum pulang. Ibu dan Ayah sedang sibuk bekerja. Perutku lapar. Obat juga belum kutelan. Namun aku enggan mengangsur langkah untuk mengambil makanan. Waktu kuhabiskan dalam renungan panjang bersama awan. Aku malas berbuat apa-apa. Pikiranku kosong dan kosong. Andaikan ada seorang sahabat di sebelah tubuhku, aku akan menyandarkan kepalaku di bahunya. Kulempar kepalaku ke samping, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pot bunga Adenium yang bunganya telah layu. Yah, layu seperti diriku yang kesepian. Sebentar lagi Faisal akan pulang. Tentulah Rita pun akan datang. Sejak kemarin Ibu mempercayakan Rita untuk mengantarkannya pulang sampai diriku pulih.  Kata dokter aku harus istirahat total. Sebuah saran yang membosankan. Lelah sebab apa? Dan mengapa aku harus istirahat? Nasihat dokter kepada orang selalu sama. ‘Istirahat yang cukup’. Bukankah begitu waktu?

Aku berludah ke samping. Kutelungkupkan kepalaku. Rasanya ada sesak yang mengakar di hatiku. Kenapa aku tidak punya teman? Aku ingin sekali terbang ke negeri seberang. Mengepakkan sayap mimpiku agar  mampu berkibar dengan indah. Tidak seperti ini, beku dalam salju penderitaan. “Aku butuh teman,” rintihku.

Aku sakit. Sungguh-sungguh sakit. Tapi bisakah kau lihat diriku sekarang ini bersama siapa? Aku sendirian! Ibu dan Ayah pergi mencari uang yang memabukkan kehidupan. Rumah yang cukup luas dan megah ini harus diisi kepedihan dalam hening bisu yang saling tak memahami isi hati. Bungkam, meski senja telah tenggelam di dasar kegelapan. Muram walaupun keluarga berkumpul dalam satu ruang yang tak dibatasi benteng mengerikan. Faisal adalah mahkota di mata Ibu dan Ayah, sementara aku adalah pengawal pelindung anak menyebalkan itu. Cukup sampai di sini aku dibunuh rasa cemburu terhadap Faisal. Aku haruslah  bangkit untuk menyongsong masa depan. Berdiri dengan kaki sendiri untuk menjadi seorang guru impian. Benarkah aku akan sanggup? Lagi-lagi aku putus asa.

“Sedang apa kamu di sini?” suara gadis. Suara yang sering aku dengar. Suara yang dimiliki oleh seorang bermata sipit. Aku mengangkat kepalaku. Sinar mentari terhalangi tubuhnya. Ia tersenyum kepadaku.

Eh tidak  apa-apa,” balasku. Ia duduk dengan melingkarkan tangannya di lututnya. Matanya tertuju ke arah pintu gerbang.

“Aku tidak mendengar suara gayuhan sepedamu? Di mana Faisal?”

“Dia sedang jajan di warung sebelah, aku kemari duluan, sepeda aku parkir di luar gerbang. Aku pikir kamu sedang tidur seperti hari-hari kemarin, jadi sengaja aku tidak ingin menganggu istirahatmu gara-gara bunyi berisik sepedaku,” terangnya. Beberapa saat kemudian Faisal menyembul dari balik pintu gerbang. Ia lari membawa camilan ringan yang sudah terbuka dan sebuah kantong keresek. Tasnya bergoyang-goyang tak beraturan.

“Kak Tamaaaa…. Faisal pulang, Faisal bawa oleh-oleh buat Kak Tama. Tadi sewaktu lewat di walung, Bu Lita membelikan Kak Tama nasi goleng, Kak Tama makan ya?” kata Faisal yang kini sudah berdiri di hadapanku dan Rita.

“Untuk apa kau membelikanku nasi?” tanyaku dingin. Kulihat bola mata Rita yang cerah.

“Aku tahu kamu pasti belum sempat memasak makanan,”

Hah,”

“Yasudah, aku pulang. Istirahatlah yang cukup!” Ia beranjak.

“Jangan pulang dulu Bu Lita, masuklah. Nanti Faisal buatkan teh hangat,”

“Tidak sayang, ibu harus segera pulang. Hari mulai sore,”

“Biarkan dia pulang Faisal! Tidak baik perempuan mampir di rumah lelaki apalagi jika tidak ada orangtua di rumah,” kataku dingin. Aku berdiri mengahadap dirinya. Bisa kubaca kecewa menghunus jantungnya atas kalimatku barusan. Menurutku itu tidak salah.

“Kak Tama tidak sopan! Kak Tama jahat!” Faisal memukul-mukuli betisku.

Eh—baiklah jika begitu. Aku akan segera pulang,” suaranya sedikit bergetar. “Permisi.” Katanya untuk yang terakhir. Tubuhnya lantas dituntun mengeluari arena rumahku.

“Terimakasih nasi gorengnya,” kataku sebelum tubuhnya ditelan pintu gerbang. Ia sempat menoleh ke belakang dan tersenyum dengan anggukan dagunya yang manis. Kuharap ia tak sakit hati dengan ucapanku barusan. Karena memang faktanya seperti itu. Nama baikku dan nama baiknya akan hancur jikalau ada tetangga yang tahu ia mampir ke rumahku berlama-lama. Aku hafal betul gelagak orang desa di kampungku. Suka mengumbar gosip dari mulut satu ke mulut yang lainnya.

“Kenapa Kak Tama membialkan Bu Lita pergi?” Faisal kecewa.

“Sudahlah masuk! Ayo makan dan ganti pakaian, setelahnya Faisal istirahat! Kak Tama mau tidur,”

“Kak Tama jahat! Faisal tidak mau makan!” Faisal melempar bungkusan jajannya. Aku menarik napas dalam. Anak kecil ini memang harus diberi kelembutan. Jika tidak cepat marahnya. Aku jongkok menyamakan tinggi badannya. Ke dua tanganku kuletakkan di atas bahunya. Ia malah berlagak. Melipat tangannya di depan dada, sementara wajahnya di buang ke samping.

“Faisal yang tampan, hari sudah sore kalau Bu Rita di sini lama-lama nanti Kak Tama bisa jadi gunjingan tetangga, orang dewasa itu tidak boleh sembarangan memasukkan orang yang belum dikenalnya. Apalagi sama-sama mudanya dan orangtua tidak ada di rumah, kecuali memang ada kepentingan yang mendesak dan kita sudah saling kenal lama.” Kataku lembut berusaha mengambil simpati hati Faisal.

“Bu Litaseolanggulu yang baik hati, Faisal sudah kenal lama dengan beliau,” anak itu tidak mau kalah. Kali ini ia menatap wajahku. Kualihkan ke dua tanganku ke arah pipinya.

“Iya, itu kan Faisal yang kenal, bukan Kak Tama.” Seruku. “Sudahlah, ayo masuk. Nanti kalau Ibu pulang, tapi Faisal belum makan siang Kak Tama bisa kena marah,” rajukku seraya membopong tubuhnya dengan paksa. Mulanya ia meronta-ronta dengan memukuli dadaku, akhirnya ia menurut juga. Peningku berangsur menghilang. “Kita makan nasi goreng yang dibelikan sama Bu Rita ya?”

“Tidak mau!”

“Habis ini kita main kuda-kudaan,” rayuku.  Aku mengambil kantong keresek yang berisi nasi goreng dari Rita di atas lantai. Masuk ke dalam dengan tetap membopong Faisal. Langkahku masih sedikit lemas.

“Tidak mau!”

“Kalau tidak mau, Kak Tama makan sendiri,”

Dasal Kak Tama jelek! Nasinya mau, olangnyadiusil,”

Diusil itu apaan?” godaku. Kududukkan Faisal di kursi makan. Aku masuk ke kamar Ibu. Membuka almari untuk mengambilkan baju ganti Faisal, tak lupa handuknya. “Ayo mandi sebelum  makan,”

“Tidak mau!” Ia turun dari atas kursi. Mengambil mobil-mobilan di kamarnya. Kebetulan kamar Ibu belum aku tutup pintunya. “Faisal mau mainan mobil-mobilan saja!” serunya.

“Yasudah kalau Faisal tidak mau makan dan mandi, Kak Tama mau tidur.” Aku kesal dibuatnya. Kesabaranku sudah habis. Kulempar handuk dan pakaian Faisal ke atas permukaan kasur. Aku lantas menghempaskan tubuhku di atas kasur orangtuaku. Faisal tetap duduk manis di atas permadani yang melembar di lantai, setia dengan mobil-mobilannya.

“Nanti kalau Faisal sudah lelah bangunkan Kak Tama ya? Kakak masih sedikit pusing,”

“Tidak mau!” katanya tak berbeda dari yang diucap sesudahnya. Anak itu kalau sudah ngambek memang sulit diaturnya.

°°°°°°

Lampu kamar sudah terang. Mataku silau menetralisir keadaan. Faisal tak lagi bermain mobil-mobilan. Dari balik jendela, kepulangan burung baru saja bersalaman mengucapkan perpisahan. Anak-anak sekolah sudah sedari tadi pulang ke rumah. Begitupun dengan pekerja kantoran. Sementara aku malah baru saja bangun dari tempat tidurku. Kukucek-kucek mataku. Duduk setengah badan. Rambutku berantakan. Bisa kau sebut aku gembel yang tak pantas bernaung di rumah besar. Aku menguap lebar. Leher kutarik ke kanan dan ke kiri beriringan dengan tanganku yang bergerak rileks di samping punggung. Rasa panas di perut menjalar ke punggung mendadak menyerangku. Kali ini aku buka lebar-lebar mataku.

“Bagus,” suara itu mengalun dengan dingin.

Ibu sudah berdiri di sisi  ranjang. Ia membopong Faisal yang sedang memainkan pesawat terbang di udara. “Wush, wush, wush.” Begitulah gumamnya.

“Adikmu tadi siang diberi makan apa?”

“Ibu, kapan pulang?” kataku berbasa-basi. Aku beranjak. Langkah kutuntun agar keluar dari kamar ibu. Sebentar lagi aku pasti akan terkena marah. Kukunya yang tajam akan mencakar-cakar batinku. Faisal pasti sudah berkicau dengan aduan kepada Ibu, jikalau tadi siang aku tidak membuatkannya makan. Menyebalkan!

“Bagus ya kamu, mentang-mentang sudah sehat kamu terlantarkan Faisal begitu saja? Ibu sangatlah muak dengan sikapmu. Kamu tahu Ibu lelah, Tama? Kapan kamu bisa mengerti Ibu? Ibu hanya mohon rawatlah adikmu dengan baik!”

“Tadi dia pulang diantar Rita, Bu.” Kataku asal. Ibu berjalan di belakangku sambil terus mengomel. Kulihat Ayah sedang membaca koran di ruang tengah. Aku tak menghiraukannya. Langkah kutuntun lurus menuju dapur. Cacing pencernaanku sedang mengamuk. Aku harus segera mengunyah sesuatu. Atau kalau tidak, punggung dan lambungku sekarat.

“Ibu tidak menanyakan hal itu,”

“Tadi Ibu Litadiusil sama Kak Tama, Bu Lita pulang cepat tidak boleh mampil sama Kak Tama.”

            Ah Faisal memperpanas suasana. Tapi aku tak boleh protes. Memang itu yang aku lakukan.

“Kamu mau makan? Sudah masak?”

“Aku mau minum obat, Bu.” Alasanku. “Tak pakai sayur atau pun lauk tidak papa, yang penting ada nasi.” Lanjutku. Aku duduk di kursi makan. Kubuka tutup hidangan. Benar-benar tidak ada lauk dan sayur. Aku menelan air liurku dalam-dalam.

“Kamu itu laki-laki sudah besar! Kalau tidak bisa keluar, seharusnya kamu bisa mengerti keadaan rumah!” Kata Ibu lagi.

Aku bangkit dari tempat dudukku. Nafsu makanku hilang. Faisal menghentikan permainannya. Ia menatapku dengan bibir mencibir sementara lidahnya keluar. Wajahnya bertambah membuatku muak.

“Ibu mohon bersikaplah dewasa, jangan terlantarkan Faisal, jagalah dia dengan baik selagi kamu mampu!” seru Ibu lagi. Aku diam beribu bahasa. Ke dua tanganku mengepal. Dadaku mulai sesak. Kesabaranku kalah dengan emosiku yang sebentar lagi akan meledak.

“Yasudah, sekarang kamu ke depan, ajak adikmu. Ibu masakkan makan malam,” aku menghela napas dalam. Kasih ibu benar-benar tak bisa dikalahkan oleh apa pun. Kekesalannya kepada buah hati, tak seutuhnya karena murka, semua itu ada sebab yang membuktikan bahwa perhatiannya sangat besar. Ibu cepat marah, namun cepat pula pulih seperti semula. Sayangnya semua itu tak mampu membuatku luluh oleh ketabahannya. Aku yang terlanjur merasa selalu disalahkan tidak sanggup membaca kasih sayang ibu dari sinar matanya. Ia melihatku tajam. Tapi aku malah mengabaikan. Faisal diturunkan dari bopongannya. Lari mengekor di belakangku.

“Kak Tama sedang malas menjagamu, pergilah!” seruku membuat langkah Faisal terhenti. Beningnya berkaca-kaca. Sebentar lagi isaknya akan menjerit keras. Ibu pun tentunya akan bertambah garang melumat habis jiwaku dengan amarah. Aku tak menghiraukan hal itu. Langkah kutuntun menuju ruang tengah.

“Sana ikut sama, Ayah!”

“Tama! Tidak baik berbicara seperti itu kepada adikmu yang masih kecil!” hardikan keluar dari mulut ayahku. Korannya diletakkan di atas meja. Kakinya tergerak ke arahku. “Kamu ini sudah dewasa, bersikaplah dewasa!” nasihat Ayah seraya menepuk bahuku. Suaranya direndahkan. “Jangan cepat marah, Ibumu seperti itu karena lelah!”

Aku bergetar mendengar suara Ayah. Ia memang lebih baik daripada Ibu.

“Aku mau keluar sebentar mencari udara segar.” Tuturku dingin lalu melesat begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Ayahku. Aku masuk ke kamarku, mengambil kontak motor dan sweter tebal.

“Mau ke mana kamu?”

“Ke langit!” seruku asal kepada Ibu yang masih sibuk di dalam dapur.

“TAMA JAGA FAIS—”

“Selamat bersenang-senang!” kataku dingin memotong hardikan Ibuku.

*****

Warna merah berarak di langit yang esok tadi biru. Embun memercik tipis. Pepohonan dirangkul kabut yang tidak mampu dikata lembut. Aku tuntun gas motorku tanpa tujuan yang pasti. Langkah tak terarah. Aku mengaku kalah dengan rerintik gerimis yang jelas mempunyai tujuan lurus ingin mengguyur nurani pertiwi menggunakan tubuhnya. Sementara aku? Ke manakah akan aku cari cairan agar sanggup menyejukkan jiwaku? Ke dasar laut? Ke atap langit? Ke planet lain? Ke jantung makhluk hidup? Atau ke mana? Aku buta dalam melangkah. Tak ada secerca harapan yang mampu menguatkanku senja itu.

Hasratku menuntun ke arah TK As-Salima. Aku mematikan sepeda motorku. Kuparkir, lalu turun mendekati pohon kersen yang dihujani embun berteman kabut tebal. Sepanjang mataku memandang hanya ada remangan cahaya mentari yang telah menguning tersamarkan bayangan kabut dalam keheningan. Sepoi angin mengiringi dedaunan kersen yang jatuh tak bernyawa meninggalkan hidupnya. Aku melangkah maju. Kusadari ada sebuah payung yang terpaku di depan pohon kersen tersebut. Payung merah jambu berlukiskan bunga-bunga dahlia tanpa tangkai juga daun. Seorang gadis duduk menelungkupkan kepalanya di sela-sela kakinya. Ke dua tangannya melingkar di lututnya. Rambut panjang kumal seolah tak tersisir. Bahunya berguncang. Isak tangis bagaikan petir di keheningan malam pada gendang telingaku. Ia memakai celana panjang sewarna tanah yang terbuat dari kain katun lembut. Sayang, terlihat tak rapi dengan stelan bajunya yang berwarna darah. Aku ingat pada sosok gadis yang tak pernah mau kuajak bicara.

“Kenapa kamu di sini? Tak punya rumah untuk pulang?” suaraku keluar dengan dingin. Aku melangkah maju kembali. Kuambil posisi duduk  di sampingnya. Sama-sama bersandar di tubuh pohon kersen. Daunnya yang rimbun mampu menyelamatkan kami dari percikan embun langit. Reflek jemariku usil mengambil payung di depanku. Kuangkat dan kugunakan untuk memayungi kepalaku sendiri.

Ia mengangkat kepalanya. Menoleh ke samping beriringan dengan pergerakan jemari tangannya menyeka airmata yang membuat wajahnya merah serupa senja pucat.

“Sudah lama tidak bertemu, kita berpisah karena aku marah kamu tidak mau berbicara kepadaku,” ungkapku tanpa menunggu jawabannya. Keadaan yang mendesak lantaran aku sedang kalut dan tidak punya teman untuk berbicara, membuatku melupakan kejadian lampau. Terpaksa kekesalanku waktu lalu harus aku kubur. Meski hanya sesaat.

Ia menatap parasku. Sorot matanya nampak bersinar dengan terang. Ia tak lagi menangis. Kesedihannya dibawa kabur embun yang tembus pada tanah hitam.

“Jangan buat aku marah, jadi bicaralah! Kau sanggup mendengarkanku bukan?” emosiku hanya terkontrol sebentar. Kulempar payung yang sempat kubawa. “Aku muak dengan semua orang, apakah kau tahu perasaanku saat ini? Aku butuh teman, aku kesal karena selalu disalahkan juga dimarahi Ibuku, aku—” kutarik napasku dalam-dalam. “Maaf,” aku merasa bersalah karena mengungkapkan masalahku kepadanya tanpa pikir panjang. Kutelungkupkan kepalaku ke sela-sela kakiku. “Aku lelaki namun jiwaku rapuh seperti perempuan,”

Rasa sakit yang mengamuk jiwaku bagaikan air yang terus menetes pada batu kesabaran. Mulanya tidak begitu kurasa, namun saat itu aku merasa telah rebah di muara pesakitan.

“Aku butuh teman sebagai tempat kubercerita, aku adalah orang gila yang tidak bisa berpikir tentang keindahan dunia,” seruku.

Gadis yang berpakaian tidak rapi itu lantas terkekeh namun tak bersuara, bola matanya menatapku teduh. Ia menggerak-gerakkan tangannya di hadapan wajahku. Melambai-lambaikanya seperti menolak sesuatu pemberian, lantas menunjuk angkasa yang berkabut dengan jemari telunjuknya, meletakkan kembali tangannya di dada lalu tersenyum.

Mendadak jiwaku bergetar. Keringat dingin menyemut di tengkukku. Jantungku melemah. Bukan karena sakit namun lantaran merasa bersalah. Apakah dia bisu? Kupandang kembali wajahnya. Tangannya bergerak seperti tadi. Ia meletakkan jemari telunjuknya di atas ke dua daging tak bertulangnya yang retak-retak dan mengering, sementara lehernya menggeleng, kemudian jemarinya diangkat, mengatupkan ke dua tangannya seperti seorang yang sedang meminta maaf. Kepalanya dianggukkan. Aku masih terdiam dalam emosiku. Mataku tak berhenti memelototinya. Kali ini ia beranjak. Ujung celananya yang seperti ombak terhempas oleh angin. Ia mencari ranting pohon. Menggurat-gurat huruf alvabet di atasnya. Rambutnya yang tak diikat terurai ke sana kemari, hampir menutupi wajahnya. Sesekali tangan kirinya menyelipkan rambutnya di samping telinganya yang tak dihiasi permata.

Ia menulis kalimat. ‘MAAF, SAYA BISU’.

Jadi selama ini? Ah— betapa cerobohnya aku. Kutuang cela dan hardikan kepada orang yang sedang menderita. Sesal pun tak akan membuahkan makna yang berarti. Kubuang untaian maafku dari relung hatiku yang paling dalam. Emosiku mendangkal. Aku merasa malu kepadanya. Setidaknya ia lebih tersiksa daripada diriku. Kenapa aku tidak sanggup bersyukur? Selalu keluhan yang aku besar-besarkan. Marah dan aku seolah lupa kepada Tuhan. Apakah maksud dari gerak-gerik tangannya menunjuk langit aku pun tak tahu.

“Maafkan aku, selama ini aku sudah berbicara kasar kepadamu, aku telah menghardik dan menyakiti perasaanmu, sungguh aku tidak tahu sebelumnya.” Aku berdiri namun wajahku tertunduk. Entah bagaimana ekspresi wajahnya aku sendiri tidak tahu. Kembali ia guratkan rantingnya di atas tanah usai menghapus kalimat yang tadi.

“Lihat ini!” kalimat perintah. Aku pun memusatkan pandanganku pada gerak-gerik tangannya. Ia jongkok. Mengambil batu dan mengumpulkan dedaunan kersen yang gugur. Membariskannya berurutan dengan lima batu kecil-kecil. Aku tidak mengerti apa yang akan ia lakukan. Tapi pandanganku tak berkedip memerhatikannya. Ia seolah tidak peduli dengan tangannya yang kotor karena membiarkan debu tanah mencumbunya.

Satu batu sebesar biji salak itu lantas dilempar ke udara. Ia mengambil batu yang lain lagi untuk menumbuk daun kersen yang sudah tak bernyawa. Aku bertambah bingung dengan tindakannya. Kemudian ia ambil kembali batu yang tadi sempat dilempar, dan mensejajarkannya kembali bersama batu yang digunakan untuk menumbuk daun kersen. Ia berdiri. Menginjak bebatuan itu hingga semuanya berantakan dari barisan. Dan terakhir, bebatuan itu kembali dirapikan.

“Apa maksudmu?” tanyaku yang sudah dibunuh kebingungan.

Rantingnya bergerak untuk menoreh kalimat balasan. “Kamu tunggu sebentar di sini, aku akan pulang untuk mengambil kertas dan pena, lalu aku akan menjelaskannya.”

Ia tersenyum sebelum akhirnya beranjak pergi tanpa menunggu respon dariku. Sebenarnya apa yang akan ia katakan? Entahlah, aku cukup bersyukur karena dirinya tidak marah atas perlakuanku yang kasar beberapa kali waktu lalu. Namun jiwaku tak mudah begitu saja menghapus jejak kesalahanku yang teramat fatal. Ia tentunya amat terluka dengan ucapanku lampau itu . Aku tidak tahu harus dengan apa kutebus khilafku yang sudah menghinanya terlalu dalam. Kau tahu apa yang harus aku lakukan? Cobalah ceritakan!

Dan kesetiaan kupahat untuk menunggunya di sini. Hingga akhirnya ia datang menjemput penerangan dalam bingung akalku.

*****

Bersambung.

Darah Mimpi bernama asli Titin Widyawati, penulis asal Magelang.