Seberkas Lilin Lebah dan Cinta yang Kutemui di Kepalamu Karya A. Fahmi Muslih

oleh

Cinta Yang Kutemui Di Kepalamu (Sebuah Jawaban Singkat)

“Aku tak kan bisa hidup tanpamu”,

katamu pada suatu senja.

Siapa aku? Begitu pentingkah diriku atas hidupmu? Aku sangat mengenalmu. Kau lelaki lugu yang berlebihan memberikan cinta padaku. Hingga kau hibahkan dirimu menjadi pecinta lalu menikmati sebuah kegilaan yang kau ciptakan. Sudahlah, jangan kau buang-buang waktumu. Segeralah keluar rumah. Di sana masih banyak hal-hal lain yang lebih penting dari pada memikirkan hidupmu sendiri.

“Kau tercipta hanya untukku”,

ucapmu kala itu.

Barangkali kau salah sangka. Tuhan tak pernah mengatakan demikian. Jika hanya untukmu aku diciptakan, sia-sialah hidupku. Terlalu sempit ruang hidup ini untuk sekedar menjalani hari-hari bersamamu. Jangan terburu-buru menyimpulkan hidup. Kehidupan bukan milikmu seorang, bukan pula milik kita berdua. Kita tak punya apa-apa. Hidup adalah pemberian, bukan sebuah permainan yang membawa anak-anak kepada kebahagiaan.

Maaf, aku tak mau tenggelam di kedalaman cinta yang kau tawarkan. Masih banyak yang harus kita bicarakan terkait kebersamaan. Suatu kecintaan dalam satu wujud lain. Mungkin tentang cinta seperti halnya secangkir kopi yang bisa kita nikmati bersama masa depan di sebuah kedai kopi. Berbincang kenangan, kebersamaan saat ini, dan juga masa depan kita seraya menyruput kopi hingga habis menyisakan ampas-ampas endapan. Lalu kita pulang bersama ke rumah masing-masing.

Yogyakarta, 2017

Seberkas Lilin Lebah

Di sudut malam

matamu berkisah debur gelisah

merangkum hujan pada bait ilusi

selepas lelap meluruh petang.

Kutemui sunyi pada kulit bantal

memadu jerami di kepala

mimpimu telah sirna semalam

kali ini, pagi gagal kupulangkan

dan lusa di sudut ketiadaan.

Jangan berlama-lama nostalgia

bagunlah, ciptakan roman baru.

Yogyakarta, 2017