Pernah Ingin Mati, Lantas Hidup Kembali Karya Darah Mimpi

oleh

Kau di mana?
Siapa yang aku cari?

Apakah aku manusia?
Dengan siapa aku bertanya?

Aku pun bingung. Sekarang apa yang aku lakukan. Sekarang tanggal berapa dan tahun berapa? Aku juga tidak tahu. Apa hidupku akan berakhir di detik ini saja? Tidak! Di masa depan aku akan mampu berjalan, aku akan tersenyum dengan mimpi-mimpi yang aku mekarkan. Tuhan, kau tahu siapa diriku, bukan?

Tentu saja, sebab diri-Mu yang menciptakanku. Kau membuatku kesusahan dalam bernapas hari ini, maka aku ikhlas, sebab aku tahu, di masa yang akan datang aku akan bernapas lebih lama dari detik ini, bukankah begitu? Izinkan suatu saat nanti aku mampu menjelajahi dunia-Mu, biarlah langkahku terjejak di ranah-ranah indah-Mu. Izinkan aku merakit senyum-senyumku agar terkumpul menjaadi bangunan kokoh yang mampu dijadikan alasan oleh orang lain, agar mereka tetap tegak di ambang kehancuran.

Aish. Malam! Oh ya? Apakah ini malam. Aku tak tahu namun kurasa dunia menggelap. Orang-orang di sekitarku melantunkan dzikir dan istighfar! Bukan! Mereka tidak melantunkan, melainkan menuntunku mengucap dzikir dan syahadat. Oksigen di dalam tabung habis. Akalku hilang.

   Masa lalu 2015. 

Kolong langit! Aku sedang menatap wajahmu dari sini, di sisi jembatan, mengamati gemerlap bintang yang memukau. Kau adalah tubuh yang tidak pernah lekang meski waktu memamah mentah jasadmu, kau tetap ada, seperti itu dirimu, biru yang membiru, atau sedikit memerah ketika senja mengecup keningmu. Kau sedikit kabur jika kabut hambur, usainya kau akan kembali menerang. Langit! Apakah kau ingat malam dulu aku terkapar di bawahmu? Dengan napas tersengal berteman lantunan ayat-ayat Alquran? Aku harap usiamu dengan manusia berbeda, jadi ketika manusia renta dan mereka mudah lupa, kau tidak, kau tetap akan mengingat perjalanan-perjalanan hidup para makhluk yang menciptakan tragedi hidup di bawah naunganmu. Apakah kau ingat? Hari itu aku dikabarkan pergi, peri sangat jauh. Lain kisah dengan ayah yang pergi untuk pualng membaw oleh-oleh berbentuk kesenangan. Aku pergi untuk tenggelam selamanya. Ralat! Itu hanya sebuah ketakutan.

Kenyataannya hari ini, aku membantumu _langit_ mengingat kejadian masa lalu.

            Masa depan, 2017.