Paradoks, Karya Darah Mimpi

oleh

Paradoks

Bapak, saya tahu di saku Anda bersembunyi permata, walau gubuk disekat dengan bambu, namun Anda memiliki tahta dengan harta di seberang sungai yang mengalir di selat airmata

Jangan kira saya pikun dengan kenangan di masa mega saat ia terhempas ke dalam ruang yang hampa, membentur semua perkakas langit, hingga gumintang dan rembulan melipu. Pernah terjadi pencurian termiskin yang dibius kesadaran vertikal tentang derajat manusiawi. Lantas bocah muntah darah di padang pasir. Anda tertawa mengharap jaya ditimbun di gudang masa depan yang telah basi!

Orang awam sedang berfilsafat tentang santun yang sekarat! Ketahuilah leher mereka terangguk, kemudian pandangan menunduk, hormat berbaris secara horisontal! Ketika Anda berpaling, benih-benih hina subur berkembang biak. Ada humus angkuh yang lupa Anda tanam! Sementara ia tidak pernah meninggalkan jejak tuannya!

Anda pangku hormat setiap detik, sementara detik berselingkuh dengan hormat yang Anda pangku. Kemudian bibir mencibir kebaikan yang Anda lumat teranggap nikmat. Saya dan mereka memang tidak membutuhkan pembelaan atas kuasa intan di balik kerah kecut, Anda, Pak! Namun, saya dan mereka padu menjadi kami yang akan menegakkan santun dengan senyuman kecut yang tulus. Kami melupakan manis yang menyakitkan, Pak!

Anda berhak menciptakan sendiri sesuatu yang Anda anggap bercahaya. Namun, sinar kami sama rata, meski pencahayaannya hanya dari surya yang ditimbun kabut kekufuran. Tenang saja, masa hadapan kami sanggup mencerna permata di lumbung kehidupan.

Magelang, 14 April 2017.


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama