Nostalgia Dengan Sebatang Cokelat

oleh
_A. Fahmi Muslih_

1. Nota Nostalgia

Sebelum pergi membasuh tangan
sempatkanlah sejenak, mampir
membuka rekaman, yang warna biru
yang entah kapan terakhir di putar ulang
potret nyanyian dalam setangkup album
yang tak sempat terbit, menjadi buku.

Sisanya kertas-kertas kecil tertinggal
tentang catatan kepala saat masih belia
bilangan pengeluaran belanja kemaren
nominal harga yang tak tentu jumlahnya
tak bisa lagi untuk dibayar, sekarang.

Lagi musimnya orang enggan berziarah
mengunjungi monumen, perabot rumah,
kebun, meja belajar, dan rak sepatu
yang sudah lama terperangkap debu.

Selalu ada bekas keringat riang,
oleh-oleh sehabis perjalanan
untuk dituliskan, menjadi cerita epik
manisan dari waktu yang tertinggal.

Yogyakarta, 1402
2017

2. Sebatang Cokelat

Selepas kabur dari keramain,
kutemukan bising kemalangan
dari sebatang cokelat telanjang
kesukaan orang-orang
ketika merindu kematian.Berhati-hatilah dengan manisan,
sebab parasnya yang jelita
seringkali beralih rupa.

Benaknya yang keras kepala
biasa mengarau roman muka,
tapi mereka yang apa adanya
adalah teman setia.

Yogyakarta, 1402
2017