Sajak Rifqi Hanif

oleh
Sajak Rifqi Hanif
Sendari Waktu
Andai saja kau :waktu tak lekas pergi
Cukup berhenti dan menetap
Dari jalan takdir yang dibuat tuhan
Bersatu melebur kisah rindu
Penyakit hati
Dengan lara, selalu kuberteman
Menghadang salam dari kawan lama
Yang selalu bertengkar
Mengingat-ingatlah masa kita bersama

Purwokerto, 09 Januari 2017

Kecupan

Masih terbayang kisah temu kita dulu
Kau meminta jiwaku tuk memasuki hatimu yang luas
Menerpa harapan pupus yang dikuatkan keyakinan
Kita kan bersatu bersama bagai kembang dan bunga yang selalu melengkapi
Deraian air tak sanggup mematahkan semangat
Tak pula menghilangkan hasrat yang terpaku hanya padamu
Meskipun yang lain selalu ingin memiliki
Masih membekas tentang kecupan yang tak hilang
Karen kamu aku adalah satu

Purwokerto, 10 januari 2017

Purnama memandang

Diantara paparan cahaya
Hanya kau yang menyemai puing-puing hancur
Merakit kembali kisah dua mempelai
Yang terbengkalai, terbuang waktu
Meniduri kisah jomblo yang sendiri
Sembari membawa keagungan mahabah yang dipunya
Sekian panjang dan liku jalan yang menempa
Tetap saja kau teguh berpegang
Tanpa menghalau lawan
Ribuan tetesan cahaya mengurai
Semak penutup harta peninggalan
Yang ayahmudulu wasiat
Tuk jaga pandang yang membusung

Purwokero, 11 januari 2017

Sarung santri
Meskipun deraian waktu mengubah
Bau sedap tetap saja berkelana
Tetap dengan tujuan yang mengarah
Pada solidaritas sesama, takkan pernah berseteru
Padanganpun mengumpat dibalik
Takkan mengintip setiap nyinyir yang menempa hidung orang
Menutupkan bicara pada lain

Purwokero, 11 Januari 2017

Almari tanpa batas

Meskipun sudah menggenang setumpuk, dua tumpuk bahkan beribu tumpuk buku. Selalu saja tak penuh, selalu ruang tak terbatas itu tak bisa terisi, beribu iman membanjiran tak juga penuh. Memang pembatas itu hanya cerita belaka. Yang ku tahu mereka menyimpan dan melucuti ketika mereka akan memenuhi ruang hampa . namun pandangan orang hanya melihat hasil mereka bekerja. Telinga mereka hanya ditutup kisah dusta penghibjr hati yang murah.

Purwokerto, 11 Januari 2017

Kotak pendera derita

Setiap derita yang kau sampaikan, selalu saja ku himpun tanpa lekasku biang. Biar saat itu kaupunpun. Betapa banyakbtabungan derita yang kau semai. Himpunan itu selalu tersimpan dalam kotak. Terbuat dari gelap yang menerjang cahaya hati sertabpenutupnya terbuat jalainan kasih yang kau idahkan dulu masa kita mengenal. Tak mengenal kau tersebab lain yang kau pinta namun deritamu kau cucurkan padaku.
Purwokerto, 11 Januari 2017

Apit : Jelanda

Cintamu telah menyemai, ketika kau dulu berucap kata yang menegur hatiku. Serpihan kecap itu selalu abadi terkenang dalam raut hidup. Namun waktu telah mencuri kata itu dikarena kau yang tak mengenal dan tak pulang menegur hatiku pula sekarang. Jalan yang kau buka dulu sekarang mengapit hidup menyertai duka yang kau beri. Tanpa malu kau berpaling dan tak menegur sapa. Bulanpun begitu. Kutanya “apakah kau juga bersekongkol bersama ia?” namun bulan hanya berdiam diri dan menutup pintu mulut dengan batuan karang

Purwokerto, 11 januari 2017

Putung

Sudah lama tersulut api, ketika kau membakar ilalang itu. Tetapi mengapa hnya kau yang tahu tak memberi berita pada penghuni ilalang. Merekapun ikut diterjang dalam kobaran yang menyemai. Tak kuasa mata ini tuk membuka kelopak pandangnya. Asap pun mengumpul dalam duka karena ia sedih melihat penderitaan penghuni yang tak salah dan tak juga benar. Apipun berduka dalam amarah. Kenapa ia harus membunuh, apalah daya api, ia tak sanggup melihat dann tak smgup pula mendengar rintihan. Mereka hanya cahaya yang tertuntun oleh siapa yang menuntun mereka. Tapi sudahlah waktu sudah lewat. Kini kau hanya putung yang tak ada guna dan tak ada kisah pula
Purwokerto, 11 januari 2017
Profil Penulis
Rifqi Hanif, ia dilahirkan tanggal 17 Desember di daerah cilacap. Sekarang masih menempuh pendidikannya di IAIN PURWOKERTO Jurusan Ekonomi Syari’ah sejak tahun 2015. Hobinya adalah membaca dan juga sedang menggiati dunia kepenulisan.

Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama