Sakit-Sakitan dan Sebatang Kara, Kakek Abu di Kasimpureng Bulukumba, Butuh Uluran Tangan Pemerintah

oleh
Abu Kasimpureng
Kakek Abu atau kakek Babo, warga Bakae Kelurahan Kasimpureng Ujung Bulu Bulukumba, hidup sebatangkara dan sakit-sakitan || SUARALIDIK-red2

BULUKUMBA,SUARALIDIK.com— Hidup sebatangkara tanpa sanak saudara di hari tua adalah hal yang paling tidak diinginkan semua orang. Setiap orang pastilah menginginkan kehidupan tuanya dapat hidup dalam sebuah rumah yang di hiasi dengan tangisan dan tawa riang anak serta cucu dan cicitnya. Namun, hal indah yang di impi-impikan oleh setiap orang tersebut tidak sama sekali tercemin dalam kehidupan kakek tua renta yang hidup sebatang kara di sebuah rumah reot yang mulai lapuk.

Abu Kasimpureng
Kakek Abu atau kakek Babo, warga Bakae Kelurahan Kasimpureng Ujung Bulu Bulukumba, hidup sebatangkara dan sakit-sakitan || SUARALIDIK-red2

Abu atau Babo (79), itulah nama kakek yang tinggal jalan KH. Agus Salim atau lebih dikenal dengan Bakae Kelurahan Kasimpureng Kecamatan Ujung Bulu Bulukumba.

Hidup dalam kesendirian, tanpa anak dan istri serta kerabat, kakek Abu atau kakek Babo yang lahir di zaman Belanda menjajah Indonesia ini menghabiskan sisa hidupnya dengan segala keterbatasan. Seakan telah siap dipanggil kapan saja untuk menghadap panggilan-Nya. Abu ‘Babo’ selalu mengisi hari-harinya dengan membaca ayat-ayat suci Alquran untuk lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta-Nya.

Kakek Abu atau kakek Babo, warga Bakae Kelurahan Kasimpureng Ujung Bulu Bulukumba, hidup sebatangkara dan sakit-sakitan || SUARALIDIK-red2

Yang lebih menyentuh hati, sang kakek yang tak mampu lagi untuk menafkahi dirinya tersebut sampai saat ini masih mampu bertahan hidup hanya dari belas kasihan tetangga-tetangganya. Makan, Minum dan keperluan lainnya semua ia dapat dari uluran tangan orang-orang dermawan yang tinggal disekitar rumahnya yang boleh dikata juga belum sejahtera hidupnya.

Dengan kondisi fisik yang sedang sakit-sakitan ( sesak nafas ), Abu hanya menghabiskan sisa hidupnya diwaktu siang hari dengan berdoa dan tidur di sebuah ranjang kayu yang hanya beralaskan kasur tipis, sehingga kulit keriputnya dapat langsung bersentuhan dengan papan kayu. Hal itu bukan lantaran Abu seorang pemalas atau lainnya, namun memang tubuhnya sudah tidak mampu lagi digunakan untuk melakukan aktifitas berlebihan layaknya manusia pada umumnya.

Kondisi tempat tidur kakek Abu di Bakae Kasimpureng Bulukumba || SUARALIDIK.com-red2

Aedi SMD, salah seorang pemerhati pemerintah kepada Redaksi SuaraLidik.com mengatakan bahwa “Kakek Abu ( Babo) tersebut hidupnya sebatang kara dan hidup seadanya saja “tuturnya.

Melihat kondisi kakek Abu yang memprihatinkan, Aedi berharap pihak pemkab Bulukumba dan Dinas terkait bisa peduli.

Setidaknya bisa membantu beban dan penderitaan kakek Abu ini, selama ini sangat jarang dirinya mendapat perhatian dari pemerintah“tegasnya penuh harap.

Tak hanya sakit-sakitan, kondisi rumah yang di huni kakek Abu pun sudah tak layak pakai, dimana guyuran hujan akan masuk kedalam rumah akibat atap yang telah bocor disana-sini.

Di butuhkan uluran tangan dan bantuan agar kakek yang hidup sebatang kara ini dapat melanjutkan hidupnya yang sedang sakit-sakitan sesak nafas.

INGAT !! Dunia dan isinya hanyalah panggung sandiwara. Orang yang bersamamu saat di timpa kemalangan itulah sahabat sejati. Akan tetapi jika ia mulai menghindar saat bantuannya di butuhkan, ia mungkin adalah sahabat palsu ” ucap Aedi. (RED2)