Sekejam Inikah Negara Kepada Rakyatnya ?

oleh

Makassar, Suara Lidik – Wawancara eksklusif yang dilakukan pimpinan direksi suara lidik Bapak Bachtiar Muslimin kepada seorang nenek penjual telur rebus dan kacang goreng di depan lapangan karebosi Makassar, Selasa (28/02/2017).

Namanya Nenek Gipa, berumur sekitar 70-80th. Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya berbahasa Makassar saja. Beliau tinggal di limbung Kabupaten Gowa. Nenek Gipa berjualan di lapangan Karebosi Makassar tetapi bukan dagangan miliknya sendiri melainkan milik orag lain.

Nenek Gipa menjual telur rebus seharga Rp. 2000/butir dan kacang goreng seharga Rp. 5000/gantung. Nenek Gipa belum bersuami sehingga tidak memiliki anggota keluarga (anak).

Saat di wawancarai nenek Gipa mengatakan “saya sudah tua mi nak, tidak mau mi kawin (menikah). Tdk ada suamiku apalagi anak“.

Nenek Gipa hanya menumpang tinggal di rumah pemilik dagangan yang didagangkan nenek Gipa setiap hari. Nenek Gipa mengaku kadang tidak pulang ke limbung jika jualannya/dagangannya belum habis terjual. Biasanya setelah 4 hari nenek Gipa baru pulang. Sehingga selama 4 hari nenek Gipa harus tidur di emperan toko yang ada sekitar jalan dekat lapangan Karebosi.

Sebelumnya nenek Gipa mengaku berprofesi sebagai pengemis di Marasa Masappang namun setelah di larang oleh satpam setempat, beliau beralih profesi menjadi penjual.

Nenek Gipa mengaku kadang tidak makan selama menjual, sebab beliau takut menggunakan uang hasil jualan yang bukan miliknya. Sehingga nenek Gipa kadang hanya memperoleh makanan dari orang-orang dermawan yang keebetulan simpatik melihat kondisi nenek Gipa.

Saat di wawancarai pun nenek Gipa mengatakan “Saya lapar nak, belum makan. Jualan saya juga belum ada yang laku. Tdk ada kodong orag yang mau beli jualanku“.

Semoga hasil wawancara ini dapat menjadi bahan refleksi bagi setiap elemen masyarakat khususnya tatanan birokrasi pemerintahan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak sebagaimana yang tertuang dalam batang tubuh UUD 1945.