Seni Budaya Didek Selayar Yang Nyaris Punah Jadi Perhatian Aurel Archipelago

oleh
Didek Selayar
Pertunjukkan Didek salah satu Seni Budaya Kepulauan Selayar

Lidik Kepulauan Selayar – Kunjungan peneliti pelestarian budaya musik etnik Aural Archipelago yang dimotori oleh Ken warga negara amerika tidak hanya meneliti musik batti-batti tapi juga tertarik dengan pertunjukan didek.

Didek Selayar
Pertunjukkan Didek salah satu Seni Budaya Kepulauan Selayar

Didek adalah salah satu seni budaya kepulauan Selayar yang nyaris punah karena jarang dipertunjukkan lagi oleh masyarakat dan banyak didominasi seni musik batti-batti terutama dalam acara pernikahan,kegiatan sosial dan lain-lain.

kedatangan Tim Aural Archielago ke kepulauan selayar sebenarnya tidak hanya meneliti musik ba’tik-ba’tik namun juga didek,”kata mawang, salah seorang tokoh pemuda pelestari budaya selayar. Saat ditemui oleh suaralidik.com dilokasi pertunjukan didek tersebut. 17/02/2017

Dalam kunjungannya ke desa bontolempangan kec. Buki ini tim Aural Archipelago disambut langsung oleh kepala Desa Bontolempangan yang sebelumnya telah menunggu bersama beberapa seniman didek salah satunya, sattu (67).

Tim Aurel Archipelago

Tak kurang dari dua jam pertunjukan didek berlangsung, tahap demi tahap mendapat perhatian serius oleh tim peneliti. Di penghujung dilanjutkan dengan diskusi antara para peneliti bersama seniman didek serta unsur pemerintah (desa dan dinas pariwisata) yang diwakili oleh Ny Hj. Marwiah, cukup banyak hal yang disampaikan kepada tim aural archipelago terutama sulitnya pengembangan pertunjukan musik didek ini yang semakin hari semakin ditinggalkan karena dianggap kolot dan ketinggalan zaman, belum lagi keterbatasan dalam hal pendanaan untuk mengembangkan budaya didek ini.

kami kesulitan untuk mencari penerus kesenian ini, karena sebagian besar generasi muda dikampung mengangap pertunjukan musik ini sudah kuno, disamping itu tidak ada dana untuk membuat wadah melatih generasi muda yang kebetulan tertarik pada budaya didek tersebut,kalau tidak ada pelanjut saya adalah generasi terakhir pak, ” kata sattu kepada tim peneliti.

Sebelum meninggalkan lokasi Tim Aural Archipelago yang terdiri dari peneliti muda yakni, Palmer Ken (California, USA), Joseph Lamont (Australia) dan Logan Hallay (Arizona,USA) berjanji akan membawa kesenian tradisional kepulauan selayar tersebut baik itu batti-batti maupun Didek ke dunia internasional dengan mengikutkan sertakanya dalam ajang festival seni budaya di Belgia pada sekitar bulan oktober mendatang.

disana banyak masyarakat eropa akan datang menyaksikan, saya akan terus mendampingi dalam mempromosikan seni budaya ini, sekaligus memberikan gambaran kepada generasi muda, bahwa musik ini keren, kalau eropa suka dengan batti-batti ataupun didek, mengapa di selayar atau di indonesia tidak,” kata Palmer Ken.

Ketua tim aurel archipelago.com yang sudah bermukim di indonesia selama lima tahun ini optimis bisa memperkenalkan seni budaya kepulauan Selayar di dunia internasional. ( ALIEF/BCHT)


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama