Kharisma Damayanti kembali Menyajikan Kisah Manis yang Indah ‘Sunyi’

oleh

SUNYI

28 Januari 2017

Hidup  hanyalah  tentang  dua  sisi. Derita atau bahagia. Tangis  atau  tawa. Sendiri  atau  bersama. Begitu  juga  dengan  kita. Aku  dan  kamu. Ialah  dua  sisi  yang  coba  menyelaras. Berpadu  agar  jadi  satu  dalam  senandung syahdu  terlantun  rindu. Sebab  rasa  adalah  mula  penyatuan. Tanpa  tahu, bahwa  kisah  selalu  memiliki  sebuah  akhir. Dua  sisi. Menjadi  sunyi  atau  tetap mengabadi.

Adakah senja memberiku ruang bernapas malam ini?  Sebab,  telah lama ia mengikat oksigen dalam relung hati. Tanpa kesempatan untuk membebaskan diri,  dari belenggu kenang tentangnya. Aku telah jengah. Disaksikan cicak-cicak terperangah. Detik jam kian angkuh. Desir angin surga melukai hati dengan semilir kepiluan yang ia hadirkan kembali.

Sunyi Kharisma Damayanti

Kisahku kan terkenang. Menghikayat walau badai salju coba merengkuh tangguh. Tidakkah kau saksikan aku tak berair mata?  Semenjak kau tanggal dari hatiku. Aku telah merelakanmu dengan segala jerih payah kuseka cemburu. Sempat kedua mata ini berlinang perih sebab kepergianmu,  namun itu dulu saat kau tanggal dari bola mataku. Kini hatiku telah leluasa. Bebas menikmati setiap cumbu yang singgah. Seperti kumbang-kumbang menyetubuhi mawar. Dalam hening,  sang mawar tetaplah teguh meranumkan diri. Dengan jalar duri. Ia tahu,  kapan harus gugur dari singgasananya.

——-

Sewindu lalu,  kau rayu aku dengan sengat di mulutmu. Aku masihlah kuncup malu-malu. Tapi,  diam-diam aku mengangankan hadirmu setiap waktu. Hingga akulah mekar di taman hatimu. Setia pada sengatmu dan kutolak semua kumbang yang mendekatiku. Aku berduri. Sengaja kusembunyikan agar pesonaku tak hilang. Tapi mematikan bagi mereka yang tak mau kukenal. Barulah dirimu,  yang menjamah damaiku dengan harapan tak akan ada sisa kesedihan dalam kasih kita.

Kutahu namamu adalah Awan. Setelah perkenalan kita di kereta malam. Yang membawa bias temaram ke dalam cawan saat jabat tangan kita. Di sana kita bercengkerama,  sepanjang jalan menuju satu rasa. Tatapmu tak pernah alih. Menusuk mataku yang bisa berdalih. Kita menjelma kisah di novel-novel roman. Dengan keromantisan di awal perkenalan. Sebut namaku Rembulan,  bibirmu mengucap berkali-kali. Memastikan nama kita bersatu di langit. Semenjak itu pula,  aku tak bisa melupakan bayangmu. Nomor telepon yang kau catat dalam notes merah jambuku,  ialah cara menegurmu dalam sapa setiap rindu.

Kriiiing….

“Hallo,  Rembulan. Sedang rindu ya? ” Setianya ia menyapa dengan nada serupa.

“Hallo,  eh, Awan. Kau selalu saja menggodaku. ”

“Memang kenapa kalau kugoda?  Tidak suka ya? ”

“Siapa bilang eh! ”

“Wah,  kau suka berarti ya. Haha,  kita bertemu hari ini ya!  Aku merindukanmu. ”

Kaulah syahdu dalam setiap desahku. Lama aku merasa gersang. Tapi setelah bersamamu,  kau bagaikan genangan dalam gurun tandus berilalang. Oase. Kaulah itu. Tepat menunjukkanmu sebagai arti dalam hidupku. Semakin hari tak jua kita pernah merasa bosan. Kau semakin liar menyayangiku. Dan aku tak jemu sebab itu. Kitalah sepasang remaja bahagia kala senja di batas kota. Berperingai jingga menggelayut dalam langit bertuliskan nama kita.

Lima musim hujan berlalu. Rasaku menggebu dan kaupun tak menampik hal serupa. Tibalah kita pada sebuah mula. Dimana tak pernah kita berpikir bagaimana akhir. Yang ada,  kita egois dengan emosi dan perasaan kita. Cinta. Membutakan segalanya sebab rasa sakit belumlah ada. Ia jadikan kita budak dalam permainannya. Bagiku,  saat itu adalah gerbang kita membuka lembaran bahagia sebagai adam yang dicipta untuk hawa. Aku tak bisa meredam kasihku. Sementara kau selalu mendekapku dengan bius rayumu.

Tibalah kau menemui kedua martabatku. Orang tua yang kupuja dengan segala cinta melebihi rasa kita. Kau bersimpuh memintaku pada mereka. Untuk menemani dan menjadikanku bidadari hati selamanya,  katamu.  Keduanya manggut-manggut,  memahami bahwa rasa diantara kita telah melebur. Tak ada alasan bagi mereka menolak sang pangeran yang datang sebagai pelipur.

“Terimalah pinanganku,  Rembulan!” Ia ucapkan di hadapan kedua orang tuaku.

Akulah hanya bisa terbata dan berkaca-kaca. Menahan haru bahagia,  hatiku hampir saja meledak sebab tak percaya. Aku manggut-manggut juga,  bibirku bungkam menandakan aku sangat menyetujui pinangannya. Binar bahagia merona pada bola mata kita. Kisah kita akan bermuara. Pikirku,  bahagia bersama adalah muara sesungguhnya. Tapi,  entah!  Takdir Tuhan,  lebihlah berkuasa dari yang bisa kita duga dan rencana.

Setelah  usai  acara  tukar  cincin  di  depan  para  tamu. Merekalah  saksi  kita  untuk  mulai  meramu hari bahagia. Sudah ditentukan!  Dua bulan ke depan. Hadirin tamu sekalian menikmati suka cita. Tak tahu akan ada akhir nelangsa. Dan kita,  sibuk dengan angan sebagai pasangan terikat dalam agama.

Entah mengapa,  sebulan sebelum kau berikrar,  tanpa bertemu kau kabarkan duka. Lewat pesan singkat terakhirmu. Sebelum kau lenyap ditelan bumi. Dan orang tuamu tak lagi peduli.

Maafkan aku Rembulan,

Ikatan kita tak bisa diteruskan

Ayah ibuku tiba-tiba tahu bahwa perjodohan kita keliru

Nasab hitungan kelahiran kita tak baik

Menentukan kita akan sengsara dalam biduk kita nantinya

Aku harus pergi melepasmu,  ke tempat kau tak akan bisa menemuiku

Kecuali kauhentikan napasmu.

Jangan cari aku, kepergianku sebab aku tak sanggup kehilanganmu.

Kau tahu,  ibuku membeku. Dia sekeras Batu. Percuma aku berdebat hebat.

Ia tak dengarkan aku.

Rembulan,  ini pesan terakhirku.

Aku mencintaimu!

Awan,  suamimu yang belum sempat mengikrar

 

Diterima 20-03-2014


Lama  setelah  aku  tak  menemukanmu. Berdiri  rasa  tak  mampu. Air  mataku  telah  habis. Sebab lukaku masih menganga karenamu. Tak bisa kuredam piluku. Bahkan hatiku kini tak berpintu. Aku meronta pada semesta. Mengapa aku harus kehilangan cinta sebesar ini?  Aku sendiri menjalani hari tanpanya. Canda tak lagi ada. Bayangnya tak mau enyah dari pikiran ku.

Aku merindukanmu,  Awan. Semenjak kau pergi,  aku masihlah sendiri. Menikmati kesunyian sepanjang hari. Dengan toa tabahku tersebut namamu.

Kharisma Damayanti Penulis dari Magetan Jawa Timur.