Syahbandy Dg Tapau : Aspek Penting Yang Perlu Diperhatikan Pemerintah Terhadap Tercapainya Kinerja Sistem Pelayanan Kesehatan

oleh

Jika kita sejenak memandang jauh kedepan tentang apa itu kesehatan pastilah ada sebuah sistem yang akan mengatur sistem itu. Sistem kesehatan merupakan sebuah proses kumpulan berbagai faktor kompleks yang berhubungan terhadap kinerja pelayanan kesehatan, adanya system pelayanan kesehatan yang tepat sangat bermanfaat untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat pada setiap saat dibutuhkan. Dalam penetapan system pelayanan kesehatan sejatinya pemerintah harus harus memperhatikan beberapa unsure penting yang akan menunjang tercapainya system pelayanan kesehatan yang bijak, tepat sasaran diantaranya adalah bagaiman input, proses, output, feedback, impact dari kebijakan yang ditetapkan sehingga dalam penetapan sebuah kebijakan tentang system pelayanan kesehatan tidak terkesan merubah fungsi pelayanan kesehatan dari fungsi social ke fungsi ekonomi dan bisnis yang pada dasarnya sangat bertentangan dengan amanat dasar Negara yakni undang-undang dasar 1945 dan Pancasila.

Dengan adanya system pelayanan kesehatan yang tepat, yang pro kepada rakyat maka peningkatan derajat yang optimal dalam bidang pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat terhadap system tersebut akan dirasakan bermanfaat sehingga kebijakan pemerintah terhadap kebijakan system pelayanan kesehatan akan terkesan pro terhadap rakyat.

Terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi kinerja sistem pelayanan kesehatan yang pertama adalah upaya kesehatan. Upaya kesehatan di Indonesia seperti apa yang kita saksika diberbagai media social pada kenyataannya belum terselenggara secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) masih dirasakan kurang. Memang jika kita pikirkan bahwa masalah Indonesia tidak hanya masalah kesehatan saja masih banyak masalah dibangsa ini yang lebih besar dan lebih dari sekedar yang kita bayangkan, tapi jika tahu bahwa dalam hal ini kita masih dalam proses dimana bagai sebuah ayunan yang mana pasti akan menemukan titik temu dan kita sebagai masyarakat hanya dapat menunggu suatu perubahan.

Berikutnya masalah pembiayaan kesehatan. Pembiayaan kesehatan di Indonesia pada faktanya masih rendah, yaitu hanya rata-rata 2,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau rata-rata antara USD 12-18 per kapita per tahun. Persentase ini masih jauh dari anjuran Organisasi Kesehatan Sedunia yakni paling sedikit 5% dari PDB per tahun. Sementara itu anggaran pembangunan berbagai sektor lain belum sepenuhnya mendukung pembangunan kesehatan.

Selanjutnya masalah SDM Kesehatan.  Sumber Daya Manusia Kesehatan dalam pemerataannya saat ini masih belum merata, bahkan ada beberapa puskesmas yang belum ada dokter, terutama di daerah terpencil. Bisa kita lihat, rasio tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk masih rendah. Produksi dokter setiap tahun sekitar 2.500 dokter baru, sedangkan rasio dokter terhadap jumlah penduduk 1 banding 5000. Produksi perawat setiap tahun sekitar 40.000 perawat baru, dengan rasio terhadap jumlah penduduk 1 banding 2.850. Sedangkan produksi bidan setiap tahun sekitar 600 bidan baru, dengan rasio terhadap jumlah penduduk 1 banding 2.600. Namun daya serap tenaga kesehatan oleh jaringan pelayanan kesehatan masih terbatas. Hal ini bisa menjadi refleksi bagi Pemerintah dan tenaga medis, agar terciptanya pemerataan tenaga medis yang memadai.

Persoalan sumber daya obat dan perbekalan kesehatan juga perlu dibenahi untuk menciptakan kinerja system pelayanan kesehatan yang sehat dan terarah.  Industri farmasi di Indonesia saat ini cukup berkembang seiring waktu. Hanya dalam hal ini pengawasan dalam produk dan obat yang ada. Perlunya ada tindakan yang tegas, ketat dalam hal ini.

Selain itu pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat. Sayangnya pemberdayaan masyarakat dalam arti kata mengembangkan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan tentang kesehatan masih dilaksanakan secara terbatas. Kecuali itu lingkup pemberdayaan masyarakat masih dalam bentuk mobilisasi masyarakat. Sedangkan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pelayanan, advokasi kesehatan serta pengawasan sosial dalam program pembangunan kesehatan belum banyak dilaksanakan.

Terakhir aspek yang perlu diperhatikan dalam menciptakan system kinerja pelayanan kesehatan adalah manajemen kesehatan. Manajemen kesehatan sangatlah berpengaruh juga, karena dalam hal ini yang memang proses, tetapi keberhasilan manajemen kesehatan sangat ditentukan antara lain tersedianya data dan informasi kesehatan, dukungan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, dukungan hukum kesehatan serta administrasi kesehatan. Jika salah satunya tidak tersedia maka bisa jadi proses manajemen akan terhambat atau bahkan tidak berjalan dengan baik dan yang dirugikan adalah masyarakat luas.

Semoga Tulisan Ini Bermanfaat Untuk Kita Semua.