Terungkap !!! Mafia PLN Bantaeng Mainkan Puluhan Juta Dana Masyarakat Palanjong

oleh

SUARALIDIK.com,BANTAENG – Dalam aksi unjuk rasa pada hari Senin (24/10) kemarin, Aktivis Angkatan Muda Yayasan Al Falah (AMYA) yang menurunkan Massa sekitar 300 Orang dari Dusun Palanjong Desa Tombolo Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng terkait praktek mafia listrik di dalam tubuh PLN Ranting Bantaeng.

Dalam aksi unjuk rasa besar-besaran tersebut, AMYA di bantu oleh aktivis dari APMB dan GAM, berjuang bersama-Sama menuntut PLN Ranting Bantaeng, Pemkab Bantaeng dan DPRD Kabuoaten Bantaeng.

Bertindak sebagai Korlap adalah Ketua Umum Yayasan Al Falah Kabupaten Bantaeng, sekaligus Ketua Dewan Pembina Angkatan Muda Yayasan Al Falah (AMYA), Rusdi.B, dalam orasinya di depan Kantor PLN Ranting Bantaeng menuntut kepada Kepala PLN Ranting Bantaeng untuk berkomitmen membangun Jaringan Listrik di Dusun Palanjong, kemudian mendesak kepada Pihak PLN untuk segera mengembalikan Dana Masyarakat yang telah di ambil oleh Oknum PLN sejak tahun 2013 yang lalu sebanyak Rp.83.000.000 dengan alasan akan memasang Jaringan dan KWh terhadap warga Palanjong.

Mewakili masyarakat dusun Palanjong,kami meminta kepada Kepala PLN Bantaeng untuk segera mengembalikan dana masyarakat pemohon Mereran Baru yang sejak 2013 telah di mintai dana oleh oknum PLN sebesar Rp 83 Juta” ujar Rusdi.

Setelah beberapa perwakilan dari Aktivis melakukan orasi depan Kantor PLN selama hampir 2 Jam, kemudian Rusdi.B sebagai Korlap membawa paksa kepala PLN Ranting Bantaeng kemudian dibawa ke DPRD untuk Audensi.

Aksi Unjuk Rasa Aktivis AMYA bersama APMB dan HAM serta warga Dusun Palanjong ,Senin (24/10) di Bantaeng terkait praktek Mafia Listrik PLN Ranting Bantaeng/ SUARALIDIK.com
Aksi Unjuk Rasa Aktivis AMYA bersama APMB dan HAM serta warga Dusun Palanjong ,Senin (24/10) di Bantaeng terkait praktek Mafia Listrik PLN Ranting Bantaeng/ SUARALIDIK.com

Namun sebelum audensi dilakukan,para aktivis melanjutkan orasi di depan Kantor Bupati Bantaeng selama hampir 2 Jam.

Rusdi dalam orasinya menyampaikan bahwa Pemda Bantaeng selama ini hanya pintar melakukan Pencitraan untuk mendapatkan suatu penghargaan, sementara fakta di daerah khususnya di Desa sangat memprihatinkan.

Pemerintah kabupaten Bantaeng tidak peduli dengan pembangunan di Desa, Pemkab Bantaaeng selama ini Buta dan Tuli dengan kondisi masyarakat, hak dirampas dan di injak-injak, didiskriminasi serta di kriminalisasi, itulah yang kami rasakan didusun Palanjong Desa Tombolo ” tegas Rusdi.

Kekecewaan Rusdi bersama dengan aktivis APMB dan GAM mulai mencuak ketika mengetahui Bupati Bantaeng dan DPRD Kabupaten Bantaeng tidak ada di tempat dan dalam pernyataannya didalam pelaksanaan audensi di Kantor DPRD, para aktivis mengancam akan melakukan kembali aksi yang lebih besar lagi.

REDAKSI; suaralidik.com