Titin Widyawati Kembali Hadir dengan Karyanya ‘Darah yang Diinjak’

oleh

Garis hitam melengkung di bawah kantung matanya. Menandakan keletihannya mendekati senja. Senyum usang yang layu.  Bibir kering tak lagi basah. Rambut kumal yang jarang tersisir. Kulit hitam arang senantiasa dimandikan siraman mentari. Meski esok mekar dalam buih ombak. Ia tetap tertegun menatap masa depan, yang jalannya entah akan ke mana dituntun. Rembulan mencengkeramnya dalam keheningan malam. Waktu berbisik, memintanya untuk segera merebahkan jiwa di atas kasur lapuk. Sayang, pikirannya mengambang di ujung mega yang sudah buta. Menatap langit. Menggumam tuk keluarkan sesak. Sepoi angin malam menembus ke celah porinya yang tak ditutup kain hangat. Gemuruh kendaraan yang melaju di hadapannya menjadi saksi bisu penantiannya yang entah menanti apa. Duduk di anak tangga pertama. Kaki diselonjorkan ke bawah. Santai. Namun hatinya diamuk merana.

Darah yang Diinjak Titin Widyawati

            Di lensanya ada gambaran ruko-ruko toko onderdil dan indomaret sederhana, rumah makan padang serta musola pun ikut memantul di matanya. Suara gemuruh kendaraan menyamarkan bangunan itu semua. Seberang jalan sana, lampu-lampu yang dinyalakan untuk menyinari kegundahan gulita. Merataplah pejalan kaki di atas trotoar, sejenak mampir ke indomaret atau tongkrong di kedai kopi pinggiran jalan. Mengumbar aura suka meski hati dibabat luka. Membawakan canda memesona walaupun kebutuhan keluarga membuahkan derita. Obrolan sekitar kenaikan BBM melambung dari ujung sampai ujung. Para pejalan kaki, para pedagang asongan, para pemuda-pemudi, orang-orang tua, semuanya mengisahkan topik yang sama. “BBM naik! Beras naik, cabai naik, pakaian naik, sembako naik, ongkos kendaraan naik, kebutuhan naik, gaji tidak naik!” umpatan-umpatan kemarahan memekik dalam riuh roda di pusar jalan. Sementara ia, bukan BBM yang dipikirkan, melainkan nasib hidupnya yang sedari lalu-lalu tak pernah menumbuk ketentraman.

Angin menghantarkan dingin.  Ia menoleh ke belakang toko pakaiannya sebentar. Kembali matanya menatap lurus ke aspal nan hitam. Bintang tersenyum di sela-sela kabut malam yang menyelimuti kehampaan. Ia tarik resliting jaket hitamnya yang serasi dengan warna kulitnya. Sosok yang letih itu sejenak menguap lebar. Tangan kiri digunakan untuk menutup mulutnya, tak mengizinkan seekor lalat atau pun nyamuk singgah di lantai lidah yang mengundang gairah. Matanya kemudian melirik arloji hitam yang tak mewah di lengan kirinya. Pukul 19:37 WIB. Belum waktunya pulang. Decaknya kesal. Lalu menekuk kakinya. Tangan menopang dagunya. Bibirnya yang kering sengaja dikerucutkan karena kesal.

Sudah dua bulan lebih dari terakhir masa gajiannya bulan lalu, ia membanting tulang di toko pakaian Karina ini, namun hasilnya tak pernah memuaskan. Terakhir digaji 800.000, dalam kerja selama tiga bulan. Padahal perjanjiannya adalah sebulan 600.000. Malang kepalang basah, sementara malam ini ia tidak mendapatkan gaji lagi. Sebenarnya karena pekerjaannya yang tidak beres? Atau karena apa? Pikirnya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Pagi menelanjangi debu-debu di atas lantai dengan sapu, tak lupa memeluknya dengan kain pel. Buka tutup toko selalu tepat waktu. Lantas di mana hak letihnya itu? Tak pernah ia mendapatkan sesuap nasi dari majikan. Pengeluaran bensin, uang makan, dan perawatan sepeda motor bututnya itu merogoh dari saku pribadinya.

Kalau dipikir-pikir, mending tidak usah kerja! Selama ini ia hanya dianggap babu yang tak layak mendapatkan upah. Kerja mati-matian menguras habis keringat, namun hasilnya buta. Ingin mogok kerja, namun karena letak rumah majikan dan dirinya hanya dilewati dua rumah jadi tidak bisa. Kalau ia tak berangkat, pintu rumahnya akan digedor-gedor sampai suaranya membangunkan sapi yang tertidur miliknya tetangga. Pasrah pun tak menyelesaikan masalah. Sebagai anak ke dua yang hidup dengan Ibu saja, tentulah tak indah jika ia menganggur dengan pekerjaan. Umur 28 tahun, gadis idaman baru saja diputuskannya. Ayah meninggal tahun lalu. Tinggal Ibu renta yang tak mempunyai harta. Hidup di dalam rumah bambu yang lantainya tak dilapisi persolin, melainkan semen biasa.

Ia menarik napasnya dalam. Mengambil bungkus rokok Djarum dari dalam saku jaketnya yang hitam. Ditarik satu batang, menyulutnya dengan korek, lantas menghisapnya nikmat seraya mengkhayalkan keindahan masa depan. Penjual ronde yang di sebelahnya memandangnya iba. Ia yang tua mendekati umur senja dalam kubur itu ikut duduk menemaninya. Meninggalkan gerobak ronde hijau tuanya. Menciumkan kain bokongnya ke lantai anak tangga pertama.

“Belum tutup, Nak?” suara parau khas miliknya orang tua. Kakek dengan uban yang tak hitam, kulit pipinya tak kencang, sorot mata nan bimbang itu membuka obrolan tuk kubur penat.

“Belum, Mbah. Belum ada yang beli,”

Oh begitu, tanggal muda. Sebentar lagi kau gajian, Nak?”

Hahaha.” Ia terkikik menahan sendu di dalam dada. “Gajian, Mbah? Ide gila, sampai aku gajian, aku sujud syukur.”

“Maksdumu?”

“Aku tidak pernah gajian!” katanya lalu menghisap rokoknya.

“BBM naik, kupikir gajimu juga akan naik,”

“Kau salah, Mbah. Aku tak pernah memikirkan kenaikan gajiku, bisa digaji saja aku sudahlah beruntung,”

“Memangnya kau tidak pernah digaji?” manik hitam mata penjual ronde itu menyorot wajahnya yang tajam. Ia seolah tak percaya, jika karyawan satu-satunya yang menjaga di toko pakaian itu tak terbayar tenaganya. Itu sebuah keputusan yang gila. Laporkan polisi dan majikan akan dipenjara. “Kau tidak sedang bercanda bukan, anak muda?”

Desember bulan penghujan. Awan meretak, tubuhnya perlahan meleleh mengguyur Bumi. Percikan air itu memantul ke atap-atap ruko pertokoan. Membuahkan sebuah ritme dentuman-dentuman air, layaknya stik drum yang bersentuhan dengan permukaan drum. Perlahan jejalanan aspal basah, kendaraan yang melaju mencripatkan airnya sampai ke pinggiran trotoar. Di matanya hujan seperti titik-titik bunga mekar usai mencium aspal. Jatuh di badan aspal, lalu memantul ke atas. Itulah seni hujan yang menarik di matanya, hingga akhirnya menjadi sisa kubangan yang menampung kotoran dalam air. Pejalan kaki serta orang-orang beroda dua, berebut cepat-cepat berteduh di pinggiran. Sepeda motor terparkir sembarangan. Wajah yang melas, menatap langit mendung yang acuh. Gelap. Langit tak berbintang. Menggambarkan kesuraman yang nyata. Dingin. Menggigillah badan mereka yang tak terselimuti kain tebal. Mantel pun tak mampu melawan kebekuan udara. Para penderita asma akan menjadi korban keganasan alam yang sedang menangis. Suasana remang dalam kabut-kabut malam. Mata hanya mampu memandang lima meter ke  depan. Kabut amatlah tebal. Menghalau pandang para pejalan beroda walau pun sudah menyalakan lampu depan. Malam remang dihunus kebutaan kabut di penghujung jalan.

Ia menarik napasnya dalam. Kembali pandangannya diluruskan menatap jejalanan yang memantulkan sinar cahaya dari sorot lampu halaman dalam kubangan air di jalan raya yang berlubang karena rusak, dan belum ditimbuni semen. “Sudah lama sekali aku tak mendapatkan gaji, Mbah. Aku sepertinya ingin mogok kerja. Sudah BBM naik, tak pernah pula aku digaji. Padahal setiap hari aku harus bolak-balik dari rumahku yang di Banjaran sampai Kaliangkrik ini, yang perjalanannya lima belas menit, itu pun dengan bensinku sendiri, kalau hanya sehari tak masalah, bensin satu liter sisa. Kalau sampai berbulan-bulan?” nada yang keluar sengaja dinaikkan. Rokoknya habis. Ia buang putungnya di tempat sampah. Sejenak beranjak menuju tong sampah yang ada di samping pintu masuk parkiran. Tak membawa payung. Ia terobos hujan yang bukan hanya menyisakan percikan gerimis. Jaketnya yang hitam pun diresapi oleh air dari langit. Cepat-cepat ia kembali duduk di anak tangga, sembari mengacak rambutnya yang menyimpan butiran air.

“Jangan bertindak konyol, mentang-mentang tak mendapatkan gaji, hujan-hujanan! Besok paginya kau akan sakit! Nanti kalau sakit dari mana majikanmu mendapatkan pemasukan sehari-hari, kalau kau tak jaga kerja?”

“Aku malah berdoa supaya sakit dan mampu memberi alasan untuk tidak bekerja. Kalau tidak punya alasan masuk akal, majikanku akan datang ke rumahku menggedor-gedor pintu. Mengganggu tidurku yang sedang lelap.” Responnya.

Ah sepertinya kau sedang bercanda masalah gaji, Nak?”

“Tidak. Aku sungguhan. Orang kaya selalu lupa dengan orang bawah. Kalau sudah menyimpan uang, bakhilnya minta ampun. Selalu merasa kurang dan kurang, alhasil karyawan sepertikulah yang menjadi korban. Mentang-mentang aku tidak lulus SD jadi seenaknya saja menggajiku, terkadang tiga bulan sekali aku hanya mendapat tiga ratus ribu, syukur-syukur delapan ratus. Apakah serendah itu tenagaku dipekerjakan?”

“Orang kaya, atasan, hahahaha. Dulu juga aku pernah bekerja dengan orang kaya, kau tahu, Nak?” wajahnya menatap paras pemuda hitam itu yang sendu. “Aku juga diperlakukan seenaknya saja, kerja lembur namun tak pernah mendapatkan uang lembur. Gaji selalu pas-pasan, itu saja masih untuk membayar kos dan kirim uang ke orangtua. Masa muda yang menyakitkan!” penjual ronde itu seolah sedang memutar kenangan lampau. “Sering gaji habis di tengah-tengah bulan, membuat perutku kelaparan setiap malam. Mau utang, teman pun tak punya. Kebanyakan dari teman-temanku uangnya akan dihabiskan untuk mabuk-mabukan, mereka merasa sudah tak membutuhkan uang. Orangtuanya pedagang, jadi cari uang hanya untuk bersenang-senang. Terkadang juga hanya diberikan kepada pacar.”

“Kehidupan orang yang sudah mapan memang selalu seperti itu, sementata aku? Pusing memikirkan nasib keluargaku. Ibu dan adikku yang masih sekolah, Mbah. Sudah begitu gaji tak pernah cair.”

“Kamu mintalah!”

“Aku tak berani!”

“Kenapa tak berani?”

“Aku selalu dianggap majikanku orang bodoh yang tak mampu apa-apa. Ijazahku SD, buat apa aku protes? Di matanya aku sama sekali tak punya harga diri,” ungkapnya menyedihkan.

“Jangan seperti itu, Nak. Cobalah dulu, kalau tidak keluar saja!”

“Ide yang menarik, dan dari dulu aku sudah merencanakannya, hanya saja belum bisa,”

“Kenapa? Kenapa tidak bisa?”

“Aku dan dia masih segolong darah, ada ikatan saudara, jadi sulit keluar. Kalau aku di rumah pasti dijemput suruh kerja jaga toko ini, menolak pun aku tidak enak.”

Oh,” penjual ronde mengangguk-angguk seraya mengelus-elus janggutnya yang tak terlalu panjang. “Ternyata masih ada ya? Saudara yang melakukan penindasan terhadap keluarganya sendiri,”

“Ya itulah faktanya,” ungkapnya lalu bangkit. Ia masuk melirik jam dinding. Pukul menunjukkan nomor 21:08 WIB, waktunya menarik pintu lipat untuk menutupi pakaian-pakaian mahal tak berkelas. “Aku tutup dulu ya, Mbah!”

“Iya, Nak. Kau yang tabah!”  pesan terakhir penjual ronde sebelum akhirnya ia tenggelam dalam pekerjaannya menutup toko. Mengangkat masuk peraga pakaian yang tadinya dipajang di depan.

Malam larut. Ia menerobos hujan tanpa mantel ke Banjaran. Udara membuat tulang-tulangnya seakan remuk. Dingin seolah akan membuat jantungnya membeku. Kepalanya yang tak dihelemi seraya dipukuli palu langit dengan keras. Bibirnya biru. Wajahnya bertambah pucat pasi. Sampai di halaman rumahnya, ia masuk ke kamar. Tetes-tetes air yang terjun dari pakaiannya membutir di lantai. Tak pedulikan hal itu, secepatnya masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air agar tak masuk angin. Di meja makan, Ibunya telah menyiapkan segelas kopi panas yang asapnya masih mengepul-ngepul di udara. Usai mandi dan mendirikan salat isak, ia duduk di beranda rumah menikmati malam berteman segelas kopi. Menatap bintang yang malu kepadanya. Sementara rembulan angkuh dengan keberadaannya. Benaknya menggumam. ‘Kapan aku yang masih sedarah dengannya itu digaji? Dia itu kakakku sendiri! Mengapa aku harus diperlakukan seperti ini? Terlalu tak adil! Ah….serasa darahku diinjak-injak olehnya sendiri. Apakah dia lupa dengan Ibu dan adik-adiknya? Mentang-mentang sudah berkeluarga!’ keluhan yang hanya disaksikan kunang-kunang malam.

02, Desember 2014. Meja kerja.