Usman Sokko ,Bapak Penikam Anak Kandung Terancam Hukuman Mati

oleh
Foto semasa hidup (Alm) Hermianti Usman /Ist

SUARALIDIK.COM,TORAJA – Usman Sokko (40), pria asal Banga, Kecamatan Rembon, terancam hukuman mati karena dinilai dengan sengaja dan terencana menikam anak kandungnya, Hermiati Usman (18), hingga tewas.

Pada tanggal 27/8/2016 lalu,Usman Sokko harus berurusan dengan hukum karena menikam anaknya sendiri Hermianti Tallo. Akibat penikaman itu, korban yang baru tamat SMA itu menderita tiga luka tusukan, masing-masing dua tusukan pada bagian dada sebelah kanan dan satu pada lengan kanan.

Korban Hermianti sempat mendapatkan perawatan di RS Elim Rantepao selama kurang lebih tiga minggu. Namun nyawanya tidak bisa tertolong dan meninggal dunia pada Jumat, 23/09/ 2016.

Foto Semasa Hidup (Alm) Hermianti Usman/Ist
Foto Semasa Hidup (Alm) Hermianti Usman/Ist

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Serse) Polres Tana Toraja, AKP Matius Tappi, mengatakan bahwa Proses hukumnya sedang  ditangani dimana Tersangka diancam pasal 44 dan 340 KUHP, tentang pembunuhan berencana.

Dalam Pasal 340 KUHP  berisi  tiga ancaman , yakni pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, dan paling lama dua puluh tahun penjara.” ujar Matius Tappi.

Matius lanjut menambahkan bahwa pada awal pemeriksaan, Penyidik Polres Tana Toraja menerapkan pasal 351 tentang penganiayaan berat dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan. Namun, setelah polisi memperdalam penyelidikan diperoleh fakta baru bahwa tersangka Usman melakukan penikaman terhadap anaknya Hermianti Tallo hingga tewas dengan perencanaan terlebih dahulu ,sehingga Penyidik mengganti menjadi pasal 340

Proses hukum terhadap Usman sudah hampir rampung (P21). “Tahap pertama (penyerahan BAP ke jaksa penuntut umum), sudah selesai, kita tinggal tunggu petunjuk jaksa untuk penyerahan tahap dua (tersangka dan barang bukti),” katanya.

Informasi yang dihimpun, pelaku mengaku menikam anaknya karena menolak dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya. Namun, belakangan ditemukan fakta baru bahwa selama tinggal bersama pelaku, korban sering mendapat perlakuan kasar dan tidak senonoh.

Atas perlakuan pelaku tersebut, korban menolak diajak pulang kembali ke rumah ayahnya dan memilih tinggal di rumah ibunya di Panuli, Lembang Sarambu, kecamatan Buntu Pepasan Toraja Utara.

Sejak kecil, korban tinggal bersama ibunya. Namun setelah tamat SD, korban dibawa ayahnya ke Banga, kecamatan Rembon.

REPORTER ; lisna

REDAKSI ; suaralidik.com-andi awal