banner 728x250

Wija Tokulo Berhalal Bihalal Online

  • Bagikan
Acara internasional ini bertema, “Tumasiddi, Tusipulung, Sipakatuo, Sipakaraja, Sipakadeceng, Sipakainge, di Era Pandemi Covid-19”.

SUARALIDIK.COM – Semalam adalah hari bersejarah yang membahagiakan bagi perantau asal Sidenreng Rapang, khusunya dari Kecamatan Kulo, Sidrap yang kini telah tersebar di Jabodetabek, bahkan beberapa di luar negeri, seperti di Malaysia. Mereka “berhalal bihalal dan reuini akbar” semalam melalui media online, zoom. Acara ini digagas oleh Bapak Dirman Palaloi dkk. 20 Juni 2020

Acara dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Mujaddid Andi Ahmad, Mahasiswa Universitas King Abdul Azis, Saudi Arabia; dilanjutkan pembacaan doa oleh Andi Ahmad Hafidz, S.Pd.I. ; Laporan Panitia oleh Ir. Yuriadi Abadi, SE, MPA. ; sambutan Ketua Umum Wija ToKulo oleh Mashur Bin Mohammad Alias, SH, M.Si. ; sambutan Pendiri dan Anggota Dewan Penasihat Wija ToKulo, Brigjen Pol (Purn) Andi Musa; sambutan Ketua Pendiri dan Ketua Dewan Penasihat Wija ToKulo, Prof. Dr. Alimuddin Andi Unde; dan Hikmlah Halal Bihalal oleh Prof. Dr. Mashadi Said.

banner 728x250

Setelah hikmah Halal Bihalal, dilanjutkan acara berbagi cerita, kesan, dan pesan, perkenalan, harapan, dll dari beberapa tokoh dan warga Wija ToKulo di seluruh Indonesia dan luar negeri. Perwakilan dari Malaysia, Hj. Dara, Fatmawati Paddong, dan dr. Fatimah Paturusi. Sebelumnya, panitia memberikan kesempatan pertama kepada Camat Kulo, Ali Husain, S.IP., M.Si.

Yang paling menginspirasi adalah berbagi (sharing) kisah sukses (success story) dari tiga Srikandi Wija ToKulo yaitu Ibu Sumarni yang menceritakan perjuangannya dari masa kecil yang sangat sulit hingga meraih empat titel kesarjanaan berbeda. Kedua, kisah Mutmainah, masih muda dan berprestasi hingga sekolah program doktoral ke Belanda, latar belakangnya boleh dikatakan sangat miskin. Ayahnya meninggal saat mereka sembilan bersaudara, masih kecil-kecil. Karena tekad yang kuat kini kesembilan bersaudaran semua mengecap pendidikan tinggi hingga ada yang jadi dokter dan apoteker. Srikadi terakhir, ketiga adalah Fatima Paddong, wanita setengah baya yang sukses di Malaysia sebagai pengusaha di bidang arsitektur, menceritakan kita perjuangannya saat keluarganya merantau dari Kulo, saat itu tidak meninggalkan dan tidak bawa apa apa. Namun tekatnya untuk maju, menjadi lebih baik. Mereka bekerja keras, belajar sunggu-sungguh. Ketiganya tersebut mengatakan bahwa kemiskinan dan kekurangan harta bukan penghalang untuk meraih cita-cita dan pendidikan tinggi.

Acara internasional ini bertema, “Tumasiddi, Tusipulung, Sipakatuo, Sipakaraja, Sipakadeceng, Sipakainge, di Era Pandemi Covid-19”.

M. Saleh Mude

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *