Yayasan Phinisi Tanah Lemo Terbentuk, Kawasan Area Tahura Perlu Di Klarifikasi

oleh
Perahu Phinisi
Fhoto : Pembuatan Perahu Phinisi di Tanah Lemo, Kec. Bonto Bahari, Kab. Bulukumba, Rabu (12/04/2017)

Bulukumba, Suara Lidik – Guna mengatisipasi maraknya ke munculan lembaga dan negara luar, mengakui model Phinisi itu adalah bentukannya. Tiga tokoh  etnis warga Bontobahari akan membentuk Yayasan Phinisi State Tanah Lemo bermarkas di Kec. Bontobahari, Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan, Rabu (12/04/2017).

Perahu Phinisi
Fhoto : Pembuatan Perahu Phinisi di Tanah Lemo, Kec. Bonto Bahari, Kab. Bulukumba, Rabu (12/04/2017)

Yayasan Phinisi yang dibentukoleh tiga orang tokoh  etnis warga Bontobahari ini akan mengelola pembuatan jenis perahu dari ukuran kecil hingga yang besar. Yayasan Phinisi juga akan mendirikan museum dan galeri yang menampilkan berbagai model perahu dari jenis.

Lepa- lepa, Jukung, perahu Patorani, Lambo, Pala ri hingga model variasi  Phinisi dan akan bekerjasama dengan pihak pemerintah daerah, kata Syarif Lala.

Pembentukan Yayasan Phinisi ini di prakarsai oleh Tiga tokoh masyarakat dan warga Panrita  pembuat perahu yakni orang Tanahlemo, Ara dan Bira di negeri Bontobahari. “Tiga tokoh itu selaku penggagas dan pembuat ide pembentukan Yayasan Phinisi di Bonto bahari nanti,” ungkap Syarifuddin Lala, pemilik CV. Paewa Pembuat Perahu Phinisi, di tanah Munteh Bontobahari, kepada wartawan suara lidik, Rabu (12/04/2017).

Menurut Syarifuddin Lala, pembentukan Yayasan Phinisi itu, sudah disetujui sejumlah warga tanah lemo yang bekerja di kantor Gubernur Sulsel. “Kini kita tinggal menunggu waktu pendeklarasiannya, setelah mendapat legitimasi, konfirmasi dari  lembaga DPRD Bulukumba”, imbuh Syarifuddin.

Sementara itu, sejumlah warga Tanahlemo yang mendiami kawasan Pantai Tanah lemo  Bontobahari mengakui ada kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahu ra). Namun katanya, soal area luas kawasan itu, masih perlu diklarifikasi berapa luas area  dikuasai pemerintah karena pada Tahun 2004  terdata seluas 3475 hektar.

Namun kata warga tanah lemo, wilayah Tahura masih perlu diperjelas, ada tanah rakyat seluas 1300 hektar diakui miliknya, dengan bukti surat rinci tanah tahun 1935. Menurut Warga disitu, Menyebut pemilik luasan tanah di wilayah Lemo bernama Makkuasang Dg Macora. Bukti makamnya ada dikawasan tanah lemo, dekat pantai yang kini dibanguni masjid tertua.

Menurut Syarifudin Lala, anak dan cucu keturunan  Makkoaseng, masih  menguasai tanah itu. Karenanya leluhur orang Tanah lemo, akan pasti merasa sedih dan  miris, bila tanah warisannya diambil oleh orang yang tidak berhak menguasainya. “Jadi Area Tahura perlu diklarifikasi berapa luas sesungguhnya,” tutup Syarifuddin. (Awal Tiro)