Yuriko Kamaru dan Filosofi Kursi “Lunggabongo”

oleh -
Sekretaris DPW Nasdem Gorontalo, Yuriko Kamaru, SH

Suara Lidik, Bone Bolango – Perhelatan Pemilu 17 April 2019 telah usai, seluruh masyarakat menantikan dan memastikan pilihan mereka masing-masing kalah atau menang. Namun kalah atau menang itu merupakan hal yang lumrah dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

Situasi yang memanas antara masa pendukung dan partai Politik pun mewarnai keadaan saat ini yang tidak lepas dari saling mengejek dan menghujat antara satu dan lainya.

Seperti contoh, hal ini terjadi dikecamtan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Tepatnya disatu desa yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Bone Bolango.

Malam itu waktu menujukan Pukul 22.30 wita, perhitungan suara DPRD Provinsi Gorontalo tengah dimulai, surat suara mulai dibuka satu persatu dan disusul oleh suara lantang Ketua KPPS dari dalam TPS yang mulai membacakan hasil surat suara.

Situasi Tempat Pengumutan Suara (TPS) makin dipadati warga yang ingin menyaksikan perhitungan suara. Tak hanya itu, situasi pun makin tegang ketika nama Yuriko Kamaru selalu dibacakan oleh Ketua KPPS.

Namun ketegangan itu pecah ditengah pembacaan surat suara. Ketika Ketua KPPS kembali bersuara dengan lantang yang menyebutkan “Yuriko Kamaru Sah.!”, secara bersamaan cuitan dari belakang dan samping kiri dan kanan TPS pun menyahut.

Cuitan tersebut pula dengan lantang diteriakan beberapa kali dengan bunyi kalimat, “Tidak Ada Le Yuriko ini, Ambungu Mehulo’a To Lunggabongo Tio,”ungkap salah satu orang yang saat itu menyaksikan pehitungan suara.

Namun bagi saya hal itu soal biasa, hujatan dan fitnah, bagi Yuriko itu sudah merupakan resikonya yang maju dalam perhelatan pileg 2019.

“Saya sudah siap dengan cemoohan, hujatan. ini merupakan resiko yang mau tidak mau harus saya terima dan kesemuanya saya serahkan kepada Allah,” katanya.

Selain itu menurut Yuriko, Kata Lunggabongo, memiliki makna manfaat yang begitu besar. Lounggabongo yang artinya merupakan kulit kelapa ini memiliki banyak fungsi dengan nilai ekonomis yang tinggi.

Tidak hanya itu, “Lunggabongo” tersebut memiliki Filosofi lain. Orang dahulu sering melambangkan pohon kelapa sebagai bentuk dari pada kehidupan yang makmur dan sejahtera.

Hal ini dikarenakan semua bagian dari pohon ini dapat dimanfaatkan secara utuh oleh manusia. Mulai dari ujung daunnya, kulitnya hingga ujung akarnya bisa dimanfaatkan.

Buah kelapa menghasilkan Lunggabongo ini adalah bagian yang paling bernilai ekonomis dan juga bagian paling inti yang menjadi kebutuhan primer.

Sementara didalam “Lunggabongo” terdapat sabut yang berupa serat-serat kasar yang bisa digunakan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi tumbuhan.

Sedangkan Tempurung atau batok, bisa digunakan sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, sendok, dan bahan baku berbagai kerajinan tangan.

“Jadi bagi saya, ketika dikatakan Mehulo’a To Lunggabongo itu tidak masalah, karena ini banyak manfaatnya, apalagi kalau saya duduk di Lunggabongo(Kulit kelapa) dengan kapasistas 50 ribu Ton kira-kira bagaimana nilai ekonomisnya,” tandas Yuriko sambil tersenyum. (**Ndi)