Zul Majjaga; “Sekali-Kali PLN Perlu Ditampar Sedikit Oleh Masyarakat”.

oleh
Syamsul Bahri Majjaga.

SuaraLidik.com — Dengan Seringnya Lampu padam, menuai kritik dari berbagai elemen masyarakat yang merasa di rugikan.
Syamsul Bahri Majjaga Salah seorang Pengurus KAHMI Sulsel ini mengatakan, “Jika ditinjau dari definisi pelayanan publik menurut undang-undang, maka pemenuhan kebutuhan listrik termasuk ke dalam pemenuhan kebutuhan penduduk dan warga negara atas jasa”, Jelas Kata Syamsul Bahri Majjaga Dalam rilisnya di Makasar, (Rabu/11/Januari/2017).

Sul Majjaga (Sapaannya), Menurut Pemuda ini, “Pemadaman listrik secara bergilir seringkali dijadikan solusi bagi permasalahan kurangnya pasokan listrik, penambahan peralatan jaringan, dan pemeliharaan preventif jaringan, Sampai kapan? Apa betul inilah satu-satunya solusi? Bukankah pemadaman listrik PLN itu sendiri merupakan satu persoalan yang harus dicari pemecahannya segera? (dibaca: nada bertanya) Jangan masyarakat sebagai pengguna jasa selalu di korbankan”, Sul Jelasnya.
“Yang menjadi masalah utama adalah posisi tawar masyarakat yang amat lemah apabila dibandingkan dengan “yang kuasa berkehendak” dalam hal ini PLN “. Diperlukan sebuah gerakan Sistematis dan massif dari masyarakat sebagai pemakai jasa PLN, Misalnya Secara bersama melakukan boikot terhadap pembayaran listrik selama bulan pemadaman ini”, Tambah Sul Majjaga.
“Intinya adalah sebenarnya PLN harus membayar biaya kompensasi kepada masyarakat Bulukumba terkait dengan pemadaman ini “—“Dibutuhkan kompensasi dari PLN sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap kondisi kelistrikan kita yang sering padam, Sekali-kali PLN perlu ditampar sedikit oleh masyarakat. Terserah masyarakat caranya bagaimana, yang penting PLN sadar, bahwa jangan asal kehendakya”, Tutup, Zul Majjaga.