Lanjutan Novel Debu Karya Titin Widyawati

oleh

Retakan ke empat

Lihat Mataku Tuhan

            Wajahnya pucat pasi. Ada guratan hitam di bawahnya. Langkahnya terlihat lesu dan tampak tak bersemangat. Namun aura hidupnya sepertinya tinggi. Saatku lihat ia merangkak mendekatiku demi sebuah minuman, aku terpesona pada tatapannya yang tak menawan namun mengisaratkan kepedihan yang cukup berarti. Aku memang diam dan pura-pura tenggelam menikmati penjelajahanku dalam dunia alvabet di buku yang kubaca tadi. Tapi itu tak aku lakukan, jujur sekali aku terus menangkap setiap huruf yang terangkai menjadi kata dari bibir tak bertulangnya.

                       deviantart.com

Dear deary, kawan. Apakah kau tahu? Hari ini aku telah dilambungkan ke surga. Aku mencium aroma mawar yang harumnya luar biasa. Ada lentera nan menembus kegelapan jiwaku. Sayup-sayup suara merdunya mengetuk pintu rinduku di hatinya. Aku dilantakkan oleh kekuatan simpati yang memikat pada pandangan pertama. Bukan karena dirinya menghampiriku untuk mengemiskan cairan. Tapi lantaran ada seorang manusia yang mau mendekati diriku. Di sini, di ruang yang rapuh tanpa bolam cahaya dengan dinding anyaman bambu, bersekat kelambu, pemisah antara ruang dapur yang terbuat dari tungku api saja dan ruang tamu yang terdiri dari satu dipan saja, dengan keterbatasan harta yang kumiliki ini ada seorang yang hendak mendekatiku. Bahkan ia meminta tolong kepadaku.

Apakah ia tak memerhatikan betapa menyeramkannya sorot mataku yang pucat, karena seringnya tetesan batin ini membuncah dalam tangis saat petang? Sepertinya ia tak memerhatikan hal itu. Seminggu telah berlalu sejak pertama kali aku keluar dari istana gubuk reotku. Aku sering duduk di bawah pohon kersen itu untuk bersimpati kepada alam, berharap ada seorang makhluk mau mendekatiku. Bahkan semut atau cacing-cacing pun yang keluar saat ranah lembek karena tercampur dengan air hujan. Aku bersedia menjadi sahabatku.

Dan kemarin aku menemukan seekor kupu-kupu cacat yang tak bisa terbang. Lantas kumasukkan ia ke dalam toples yang telah kulubangi ventilasi udara agar ia mampu bernapas. Tak lupa kuberi satu batang pohon untuknya bertengger, sayapnya yang satu robek, sementara yang satunya berkibar dengan riang. Aku tak jengah mengintipnya saat senja memeta jejak di ufuk Barat, atau subuh menyelingkuhi irama fajar. Ia selalu menemani malamku yang kelam dalam kerinduan kepada sosok Ayah yang pergi entah ke mana bersama wanita mana, dengan sebotol anggur memabukkan hutang dari mana. Entahlah, sepertinya cukup kuberteman dengan kupu-kupu cacat sepertimu yang kini menatapku iba dari balik toples plastik.

Kelambu biru menyekat kamarku dengan kamar sebelah. Tentulah kau paham bukan itu kamar siapa? Ibuku, yah ibuku yang renta dan sering berontak marah karena aku tak bisa bekerja. Abaikan hal itu, yang jelas sekarang kupu-kupu. Kau tahu bukan hal apa yang membuatku bahagia? Ada seorang pemuda pucat yang mau bersandar denganku. Seraya aku diajak menari di bawah lengkung pelangi yang disambut dengan semerbak mawar putih. Ahay, kau tahu bukan kupu-kupu?

Aku amatlah menyukai mawar putih. Jika sebagian orang berkata bahwa mawar putih adalah lambang kesucian, maka aku mengajukan sebuah argumen bebas yang mengatakan bahwa mawar putih adalah tandanya dosa bernoda yang menyangkar dalam dada. Bisakah kau cermati bahwa hati ini berwarna merah? Lantas karena dosa tertoreh dalam buku catatan amal keburukan, ia menjadi hitam pucat berbintik-bintik merah. Tak percayakah kau kupu-kupu? Bertanyalah kepada malaikat pencatat amal, Raqib atau ‘Atid. Mawar putih jika sekali dilumuri tahi cicak, ia akan tampak jelas.

Seperti rupa kain kafan yang telah bersemayam bertahun-tahun dalam kuburan, maka pucatlah sudah jikalau dosanya ditimbun berbukit-bukit gunung. Menjelegar di atas neraka tanpa sarat untuk meringankan siksa. Mawar putih akan selalu mengingatkanku dengan dosa. Itulah yang membuatku menyukai mawar.

Tentang pemuda tadi? Ah, aku terlalu bersemangat bercerita denganmu, diary dan kupu-kupu. Hingga tintaku tertuang melaju tanpa arah. Maafkan aku. Jangan bilang-bilang ya? Hari ini aku mengecup kening waktu dalam buaian senyum pemuda tadi. Aku ingin menjadi sahabatnya, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar aku mendapatkan perhatian lebih darinya. Seorang cacat seperti dirimu, kupu-kupu. Tak bisa berkata-kata, dan belum bisa berbuat apa-apa.

“Sintaaaaaaaaaaaaaaa….” suara Ibu melengking keras dari luar. Aku terjinggat. Penaku terpanting ke samping. Cepat-cepat kututup buku diaryku. Ada masalah apa lagi? Mengapa ibu berteriak memanggilku seperti itu? Hatiku was-was. Kutarik laci mejaku. Meletakkan buku catatan hidupku ke dalamnya, lalu menguncinya rapat-rapat. Aku mendekati kelambu. Dengan gemulai lembut jemariku menyibaknya.

Sorot lensaku menatap teduh paras ibu yang bermasam kecut. Garis kerutan kerentaan di wajahnya menjadi terlihat lebih jelas dari hari-hari sebelumnya. Ibu yang hobi menyanggul rambutnya sedang berkacak pinggang di hadapanku. Tanganku menengadah ke atas. Mengisyaratkan kalimat untuk berkata. “Ada apa?”

“Apakah kamu tidak melihat keadaan di luar sana? Hujan! Jemuran belum kamu ambil. Kalau sampai ayahmu pulang, dan tahu bajunya terkena air hujan, Ibu yang akan kena marah. Kamu tahu itu bukan?!” Hardik ibuku dengan suara lantang melebihi lantangnya muazin dari toa surau. Aku merunduk menyadari kesalahanku. Meminta maaf dalam hati. Bibirku bergetar. Mataku berkaca-kaca. ‘Maafkan aku karena keteledoranku, aku sibuk dengan diaryku. Maafkan aku, Ibu.’ Raungan jiwa yang tak mampu terungkap dengan kata-kata.

“Ambil payung dan angkat jemurannya. Ibu mau masak dulu, ibu lelah jadi setelah kau ambil jemuranmu lantas bantulah ibu memasak.” Perintah ibu. Aku tersenyum lalu mengangguk. Ibu berlalu pergi tanpa menatapku yang masih berdiri terpaku di depan kelambu. Senja merangkak di balik pegunungan. Keemasan warna langit bercampur dengan merah, lantas dileburkan oleh jingga dan abu-abu. Awan menggumpal melambatkan kabut untuk mencegah hujan. Sayang, rintiknya tak pernah mau macet di pertengahan waktu. Terus runtuh, hingga langit seakan-akan robek. Kala itu aku keluar dengan sebatang payung untuk mengambil jemuran Ayah dan Ibu.

Di jalan masuk ke rumahku. Kulihat seorang lelaki separuh baya berjalan terpontang-panting menuju pintu rumah. Bajunya tak terkancing dua dari atas. Rambutnya basah serta acak-acakan. Sebuah sebutan yang kuutarakan kepadanya, Ayah. Ayah tak beralas kaki. Tampang yang lusuh dengan guratan hitam di bawah kantung matanya. Kutebak, Ayah semalam begadang dengan gadis lain atau kalau tidak ia berjudi dan paginya kalah hingga melampiaskan diri dengan cara bermabuk-mabukan.

Itulah Ayahku. Ayahku pecinta minuman keras dan yang pandai bergurau dengan dunia gelap. Tetes langit mengundang murka ke arahku. Melihat satu baju miliknya Ayah yang kehujanan padahal sudah dua hari kujemur. Aku berdiri tertegun. Tak sengaja payung yang kubawa jatuh terpental mencium bumi. Kini tubuhku pun diguyur hujan. Ayah berdiri menyeimbangkan tubuhnya di hadapan tubuhku. Tepat dua meter dariku berpijak. Sorot matanya merah.

“Gadis manis yang cantik, kau apakan baju Ayah?” katanya lembut namun menyiratkan amarah yang dasyatnya luar biasa. Sepertinya alkohol tak terlalu dalam menyerang kesadarannya. Hingga mampu memancing emosi saat melihatku kehujanan dengan kainnya yang berharga. Mungkin lebih berharga dariku.

Tangan kekarnya meraih rambutku yang terlanjur basah. Dijambak. Ditarik keras sekali. Hingga tubuhku bersentuhan dengan dadanya yang basah namun hangat. Kurasakan deru napas Ayah yang cepat. Tanganku setia menggenggam kain Ayah dan Ibu, aku tidak ingin baju-baju ke dua orangtuaku jatuh bersatu dengan bunga-bunga air yang memantul di permukaan tanah. Jika iya, jangan harap ampun dari Ayahku melesat.

“Seharian ini apa saja yang kau kerjakan? Hah?” bentakan itu membuat daun telingaku bergetar. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.  Ayah selalu membentakku. Seharusnya aku paham dengan wataknya. Seharusnya pula aku tak menangis karena jambakan ini. Kau tahu kupu-kupu, hal ini sudah sering diperbuat Ayah untukku. Jadi tak perlu aku berkeluh kesah dalam derita airmata. Namun, jujur aku tak sanggup jika setiap hari diperlakukan seperti ini. Ayah macam apa?

Kenapa tega melakukanku seperti itu. Jika hanya akan berujung seperti ini. Untuk apa kau bermalam cinta dengan Ibuku dahulu mengeluarkan mani dari vagina Ibuku. Menggelinjang dalam kenikmatan bara asmara setiap malam saat rembulan mengintip adegan surgawi dunia kalian dari balik gubuk. Aku butuh kasih sayang. AKU BUTUH KASIH SAYANG. Itulah pekikan yang akan keluar, jika aku sanggup berbicara di depan Ayah.

“Anak cacat! Bisakah kau tak membuat marah seharian ini saja? Betapa cerobohnya dirimu membiarkan pakaian Ayah kehujan-hujanan di luar sini,”

Tali jemuran yang sudah kosong menatap kami iba. Angin meliuk dalam desisan aura dingin yang membuatku mengigil. Seharusnya Ayah memelukku. Bukannya malah menjambakku. Ayah kau lebih pantas jika mengajakku masuk ke rumah dan kita akan menikmati teh hangat bersama-sama.

“Sudah cacat, tak berguna!”

Ayah melemparku hingga aku terjerembab di bawah tali jemuran. Semua pakaian yang kudekap erat-erat pun jatuh ke tanah. Jatuhnya air yang memantul ke atas permukaan tanah itu seakan melambaikan tangannya untuk menolongku. Jika mereka mempunyai tangan. Hanya sebuah pakaian lantas Ayah memarahiku sampai seperti itu? Apa salahku? Dan mengapa ucapan cacat itu terlontar untukku. Darahku ini darahmu, Ayah. Lihat mataku jika kau tak percaya? Lihatlah betapa indahnya mataku yang mirip sekali dengan matamu, Ayah. Aku ini anakmu bukan pembantumu. Jika aku mampu menjerit. Maka akan keluarkan betapa sakitnya diriku hari ini. Maafkan aku jika aku bisu. Tapi kupikir itu bukanlah salahku. Melalui kata aku menuangkannya dalam dendangan cerita. Kupikir akan abadi hari ini.

Saat itu kau biarkan aku dikecup mesrah hujan dari atap Tuhan.  Kau dengan indahnya melenggang pergi masuk ke dalam rumah, mengamuk Ibu yang sedang memasak. Menjambak rambutnya karena nasi belum dimatangkan oleh tungku api yang hidupnya kembang kempis lantaran kayunya basah. Tadi aku lupa memasukkan sebagian kayu bakar dari samping rumahku. Aku tak tega membiarkan lolongan Ibu yang menangis penuh sakit hati. Aku lari ke dalam. Kulempar jemuran basah yang bercampur dengan lumpur itu di atas dipan. Aku lantas memeluk Ibu, usai kudorong tubuh Ayah ke belakang.

Tak rela kulihat Ibu separuh nyawaku diperlakukan seperti itu. Ibu memelukku erat-erat. Kami berdua menangis. Saksinya tungku api yang hitam karena angus. Panci masak yang isinya nasi belum tanak. Almari dapur dari bambu yang sudah digerogoti rayap, berisi rapi alat-alat makan, seperti; sendok, garpu, piring, mangkok, dan yang paling bawah adalah peralatan memasak.

Kesemua benda itu menatap kami sangsi, seolah tak tega mendengar raungan airmata kami, jika mereka memiliki mulut dan tak bisu seperti diriku, kuyakin mereka akan lari ke kantor polisi untuk mengadukan perbuatan tak bijak dalam mata ini. Sebuah penganiyaan dalam keluarga lantaran ekonomi yang sukar didapatkan.

Ayah yang dalam keadaan mabuk tak bisa berpikir cemerlang. Mendorongku hingga punggungku membentur kursi kayu yang sering diduduki Ayah untuk makan. Di rumah kami tak ada ruang makan, kami selalu makan di dapur yang  kotor bertemankan semburat api jika ia hidup. Di luar sana mendung menurunkan hujan yang amat deras. Di dalam sini, hatiku dan hati Ibu sakit keras. Luka merajam sukmaku. Aku dimabuk candu dalam kegelapan.

“Kerjaan kalian berdua itu apa?” hardik Ayah.

“Masak nasi saja tidak bisa?”

‘Ibu seharian tadi bekerja di pasar. Membantu Bu Lurah jualan beras, apakah Ayah tak tahu?’ Itulah yang akan aku katakan jika aku sanggup mengeluarkan kata-kata.  Bisu ini membuatku tak bisa membantah. Seolah menurut saja.

“Kau tahu seharian ini aku ngapain? Aku KERJA! AKU LELAH! DAN SAMPAI RUMAH TAK ADA NASI?” Ayah berkata dengan nada yang sangat tinggi. Jika di luar sana tidak hujan. Kuyakini tetangga pasti mendengar perselisihan ini. Bukan perselisihan, tepatnya penganiayaan ini.

“Apa kamu bilang, Yah? Kamu kerja? Mabuk dan judi serta main wanita kaubilang kerja? Lantas yang tidak kerja itu apa?”

Plaakkk? Satu tamparan mencium pipi Ibuku. Aku bangkit. Kudorong tubuh Ayah. Fisikku lemah. Aku tak kuasa melawan tekanan dorongan emosinya yang lebih kuat untukku. Aku jatuh. Hampir saja punggungku membentur tungku api. Untunglah waktu masih menyelamatkanku.

Napas Ayah tersengal-sengal. Raut wajahnya menyerupai darah. Aku memandangnya penuh kebencian. Airmata memang cair. Tapi sorot mataku yang penuh dendam tak kan buyar dari jiwaku. Ayah mengepalkan tangannya di garis celananya yang lusuh dan basah. Tetes-tetes air meresap ke lantai yang tak dipoles porselin. Urat-uratnya menegang kasar. Gerahamnya mengatup dengan sangat mengerikan. Jakunnya naik turun tak beraturan. Matanya merah.

“Kau boleh lukai aku tapi jangan lukai anak kita, Yah!” bela Ibu seraya menghampiriku dan memelukku. Dia usap ubun rambutku. Kami berdua tersungkur di depan tungku. Baju Ibu ikut basah karena bertempelan dengan kainku yang tadi diguyur hujan  saat mengambil jemuran. Tentulah tanpa kujelaskan kain kami berdua kotor terkena debu. Gelap semakin jelas. Senja tenggelam.

Namun lampu penerangan belum dinyalakan. Seketika itu Ayah mengamuk. Mengambil gelas dari rak bambu lalu melemparnya berlawanan arah dari kami tersungkur. Ibu sempat menjerit. Gelas itu pecah tanpa dosa. Hidupnya berakhir. Layaknya emosi Ayah yang melesat entah kemana. Pintu depan dibanting. Ayah jauh menerobos butiran hujan yang turun dari langit.

“Maafkan Ayahmu ya, Nak.”

Ibu kadang kasar kepadaku. Tapi Ibu amat sayang kepadaku. Aku yakin Ibu seperti itu karena banyak masalah. Kupu-kupu, sekian aku bercerita kepadamu.

********

TUHAN. BOLEHKAH AKU MENJERIT DAN MENGELUH? Lihat ke mataku sekarang. Lihatlah! Aku sakit.

Itu yang akan aku katakan. Ada apa denganku? Apa yang mampu aku lakukan jika seperti ini. Apakah harus menjadi pengintip anak-anak belia terus-terusan di TK As-salima? Tidak bukan? Percakapanku dengan-Mu kulambaikan saat waktu menjelma kebekuan laraku.

Usai mengantar dan menunggu Faisal sekolah. Aku langsung masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Sama sekali tak kan kuizinkan Faisal bermain di kamarku seperti biasanya. Aku rebahan di atas kasur. Faisal meraung-raung di badan pintu. Ibu dan Ayah belum pulang kerja. Jadi hanya aku di rumah dengan Faisal. Sebelum aku mengunci diri di dalam kamar. Aku kunci rumah agar Faisal tak melesat keluar. Aku tak akan membiarkan Faisal melihatku merintih kesakitan senja ini.

Tangan kiriku tak henti-hentinya mencengkeram dada kiriku. Uluh hatiku serasa dibakar di atas panggangan neraka. Setiap uluran napasku harus kukeluarkan dengan perjuangan. Berat. Menahan luka yang mencabik-cabik nyawaku dalam paru-paruku. Atau malah jantungku? Detaknya saja sudah seolah akan loncat-loncat. Laksana lonceng kuil yang baru saja dipukul. Sungguh tak jelas detaknya. Aku berkedip-kedip tak tentu pula. Seolah kesadaranku akan melayang. Kurasakan perihnya samurai menggores di punggungku. Lagi-lagi jika aku di rumah.

Baru kurasakan sakit yang minta ampun. Dasyat luar biasa menyiksa hidupku. Inilah aku. Saat di luar rumah masih kuadu dengan semangat senyumku menyambut dunia. Namun saat aku terjerat dan terdiam dalam sebuah ruang tanpa ada seorang pun yang tahu diriku. Aku meraung-raung kesakitan. Bagaikan anak Harimau yang baru saja dipanah bagaian jantungnya oleh pemburu. Napasnya tersengal-sengal. Mempertaruhkan sisa kehidupan muda sebelum menyambut renta dalam bungkaman senja. Melodi maut seolah bersiul-siul di samping gendang telingaku. Lantas jiwaku berteriak seiring remasan tanganku yang semakin kupererat.

“Tuhan! Sakit! SAKIITT! lebih sakit saat aku seperti ini, Ayah dan Ibuku sibuk bekerja. Malahan aku disuruh menjaga Faisal. Ini namanya tidak adil. Tapi—” gumamanku tersendat. Bibir waktu senantiasa mencumbuku dengan kelemahan fisikku. Mataku mulai terpejam. Panas di dada sungguh membakar naluriku untuk mengasihi tangisan Faisal yang sedari tadi menjerit-jerit memanggil namaku.

“Mas Tama. Kita main kuda-kudaan?”

“Mas Tama, Faisal lapal, Mas Tama halus masakin!”

“Mas Tama, Mas Tama jangan tiduuulll. Mas Tamaaaa….” suara itu melengking seiring tangisannya yang nyaring. Dari balik pintu kamarku kudengar ketukan kakinya mengamuk permukaan pintu. Ia tentunya gelesotan di lantai. Harus apa yang aku lakukan? Aku tak sanggup menahan luka ini. Luka yang telah kubawa sedari tadi sebelum aku pulang dari sekolahan.

Bahkan kau tahu bukan aku sampai bela-belain mengemis sebotol minuman kepada gadis dengan kepanjangan rambutnya yang terurai. Aku yakin, kau tak akan melupakan hal itu bukan? Yah. Aku percaya, tak usah kau berikan jawaban. Sebutkan saja apa yang harus aku lakukan hari ini agar aku tak dijerat rasa sakit yang menyiksa punggungku dan dadaku. Napasku berontak meminta oksigen buatan insan. Aku tak punya biaya. Jika dalam hitungan beberapa detik ini aku kejang. Jangan harap syaraf otakku akan mampu menangkap suara Faisal yang menjerit-jerit meminta makan.

“Mas Tamaaa.. Mas Tama, Faisal lapal, Faisal ingin makan nasi goleng,”

Jika aku sanggup bangkit maka aku akan memasakkan makanan untuk Faisal. Tapi jujur aku tak mampu.

Aku rasakan tubuhku benar-benar tidak nikmat. Kepalaku juga berat. Punggunggku sekarat. Oksigenku mampat. Nyawaku terjerat. Aku tak tahu harus berbuat apa. Perutku keram. Sesak sekali. Penyakit jika dimanjakan maka akan bertambah parah. Aku berpikir sejenak. Suatu hal harus mampu membuatku beranjak. Aku muak. Jiwaku dimabuk dendam kepada penyakit. Tapi aku tak boleh murka kepada zat yang menciptakanku. Aku lompat dari ranjangku. Aku buka pintu kamarku. Faisal masih menangis gelesotan. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku.

 

“Mas Tama?” serunya saat tahu aku sudah berdiri di ambang pintu. “Mas Tama, Faisal mau makan dan main kuda-kudaan atau main bola,” serunya tanpa memahami parasku yang pucat masam. Aku tak hiraukan perkataan itu. Yang jelas aku harus mengusir sakit ini. Kalau tidak. Aku bisa diserang kejang yang mampu menyantap kesadaranku dan merusak sarafku, jika teramat fatal maka aku akan lumpuh. Oh, kenapa harus kejang? Ini menyebalkan. Aku lemah, namun kaki kupaksa lari keluar. Sudah tiga kali aku menabrak benda. Pertama pintu ruang tamu dan ruang televisi. Ke dua menabrak kursi. Dan sampai luar akhirnya ketiga aku menabrak pot bunga yang ada di teras rumah. Hujan lebat. Namun aku terus berlari walau tak cepat. Sampailah aku di ladang Pak Sarmin, ladang yang ada tepat di sebelah rumahku. Ladang ini ditanami pohon singkong saja. Sebagian doyong karena terhempas angin. Di situ. Di tengah-tengah pusar ladang. Aku jongkok. Aku menangis. Aku mengadu seraya menatap langit. Tuhan! Ini sakit. Jika kau tak percaya. Lihatlah mataku. LIHATKAH MATAKU? SAKIITT.

 

Napasku tak boleh sesak. Aku berusaha keras mengatur napasku. Naik, turun. Hirup, lepas. Sekuat tenaga kunetralkan kondisiku. Hujan masih menjarah bumi. Basah kuyublah pakaianku. Faisal mematung di depan pintu. Mengamatiku. Jelaslah akan terlihat, lantaran kau tahu bukan? Rumahku bersebelahan dengan ladang Pak Sarmin. Hanya disekat pagar bambu setinggi setengah meter. Dan tadi aku loncati pagar tersebut. Lelah. Napasku menderu sesak. Dingin. Aku mengigil. Ini sakit. Seolah kegelapan akan menyambutku.

Aku melirik Faisal. Matanya nanar. Bibirnya bergerak-gerak. Aku yakin dia pasti bersuara di ambang sana. Sayang hujan menelan suaranya habis-habis. Jadi aku tak mampu mendengarnya. Biasanya air akan memberikan kesegaran setelah letih seharian sekolah atau pun bekerja. Aku pikir sakit ini akan digantikan dengan kesegaran air hujan. Yah, aku yakin sekali. Demi adikku, aku harus kuat. Setelahnya aku akan makan bersama dengannya. Tanah yang kupijaki lembek.  Celanaku kotor. Hama rumput yang kududuki roboh. Biarkanlah mereka mati. Aku tak peduli hal itu. Cacing-cacing tanah seolah terganggu dengan hadirku hingga dapat kusapa, tiga cacing berdiam diri melamun di samping batang pohon singkong.

Telingaku mendengar sebuah hentakan kaki menginjak kubangan air. Saat azan maghrib membendung kepiluan senja. Saat itulah, Faisal lari ke arahku. Tanpa membawa payung. Anak mungil yang sudah berkaos abu-abu berlukiskan gambar Upin-Ipin tersebut menangis dalam basuhan air hujan. Ia berdiri di balik pagar ladang. Airmatanya dileburkan dengan hujan. Aku terperanjat kaget. Tak boleh adikku menderita karena hujan. Sakit bisa menyerangnya.

“Kalau Mas Tama tidak mau mengambilkan Faisal makan, Mas Tama jangan ngambek sepelti ini. Nanti Mas Tama sakit. Faisal janji tidak akan nakal lagi. Tapi Mas Tama jangan hujan-hujanan, kalau Mas Tama sakit besok siapa yang main bola sama  Faisal? Siapa yang mau main kuda-kudaan sama Faisal? Siapa yang mau main lobot-lobotan, mobil-mobilan, lali-lalian sama Faisal?”

Fa—Faisal?” suaraku serak. Aku beranjak mendekati tubuh mungil Faisal. Bola mata kepolosannya membuatku iba.

“Mas Tama ayo masuk, di lual dingin. Faisal ingin main lobot-lobotan. Faisal juga lapal,” rengeknya.

Aku loncati pagar. Kubopong tubuh Faisal.  Kupeluk dirinya erat-erat. Aku sudah mempunyai cukup tenaga untuk bangkit. Meski masih terasa disayati luka. Namun benarlah, air mampu memberiku kesegaran.  Kini panas dan dingin beradu memainkan antibodi tubuhku. Panas di dalam dada, dan dingin karena mengigil.

Belum sampai aku menginjakkan kaki di beranda rumah. Kudengar suara lenguhan napas kendaraan. Mobil Nissan Ayah dan Ibuku masuk ke halaman rumah. Aku melirik sejenak sebelum naik ke atas lantai. Bisa kutebak Ibu akan menangkap dengan jelas adegan hujan-hujananku dengan Faisal. Terbukti saat sampai halaman. Ia langsung keluar menghampiriku yang telah duduk di kursi beranda rumah. Kupangku Faisal yang kedinginan.

Kulihat sorot mata Ibu kesal lantaran pakaian Faisal basah. Ia keluar tanpa menggunakan payung, padahal aku hapal betul ia selalu sedia payung sebelum hujan. Seragam kantornya masih rapi, namun seketika basah disirami hujan. Ayah menyusul dari belakang. Ia membawa payung. Mata Ayah yang teduh terbening keheranan.

“Tama! Apa yang kamu lakukan bersama adikmu? Kenapa kalian berdua hujan-hujanan?” Sentak Ibu seraya merebut Faisal dari pangkuanku tanpa izin. Ia bergegas masuk ke dalam rumah mengambilkan handuk dan mengganti baju hangat Faisal, sementara mulutnya terus mengeluarkan kata-kata untukku. Ayah sendiri berdiri terpaku di depanku. Menatapku sangsi.

“Apa kamu tidak memikirkan akibatnya nanti, Tama? Kau sudah besar, jangan kayak anak kecil. Apakah tak bisa mendidik satu-satunya adik kecilmu?”

“Maaf Yah,” belaku lalu berdiri. Masuk membiarkannya begitu saja.

 

“Kamu itu sudah dewasa tak bisa memberikan contoh yang baik kepada Faisal!” hardik Ibuku dari ruang TV. Aku melirik sekilas sebelum akhirnya membantimg daun pintu. Kuhanduki kepalaku yang basah. Lantas kubawa handuk tersebut ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandiku ada di samping kamar. Jadi tak perlu aku berputar balil ke ruang depan mendengarkan ocehan Ibuku. Kalimat terakhir yang kudengar adalah.

 

“Ibu Faisal lapal, Faisal dali tadi siang belum makan,”

“APA? SEHARIAN INI KAMU NGAPAIN SAJA TAMAAAAA!!!!!” Lolongan itu membuat telingaku serasa panas. Hatiku ingin mengamuk. Tapi kepada siapa? Entahlah aku tak mengerti. Jikalau Ibu tahu kalau aku sakit. Masihkah ia akan memarahiku?

°°°°°°°°°

Langkah ini terus aku tuntun. Tujuan ke mana aku tidak tahu. Ada gejolak luka yang memanasi dadaku. Amarah mengamuk kesadaranku. Alkohol tadi memadukanku dengan setan yang tak mampu dibendung. Kutampar sudah istriku. Anakku, pasti akan amat membenciku. Aku tidak tahu, hidup ini teramat susah bagiku. Aku ingin membahagiakan mereka semua, tapi dengan apa? Jujur selama ini aku memang mabuk. Aku memang berjudi. Tapi bukan berarti aku tidak menyayangi mereka. Hanya saja aku tidak bisa langsung begitu saja membendung amarahku. Apalagi jika aku lapar namun nasi belum terhidangku. Pusing kepalaku. Egoku yang kasar selalu saja salah di mata mereka berdua. Kenapa pula aku harus memanggilnya anak cacat? Tuhan dia itu anakku, bukan musuhku. Kutampari wajahku sendiri.

Azan isak berkumandang. Di depanku surau kecil yang tak ramai. Ingin mampir. Kuurangkan niatku. Rasanya tak mungkin aku bersujud dalam keadaan basah seperti ini. Lebih baik aku pergi dari halaman persinggahan suci tersebut. Tak pantas ragaku yang diguyur dosa segunung sembilu menemui Tuhanku. Aku yakin. Aku siap jika neraka adalah duniaku. Tidak papa. Aku akan coba mengikhlaskannya. Itulah aku, Ayah yang tak bisa memberikan contoh baik kepada ke dua kekasihku. Anak dan istriku. Maaf. Maafkan aku.

 

Terus kuterobos hujan dalam kegelapan. Kakiku yang tak beralas sempat tersandung. Sesekali aku bersin. Kepalaku pusing. Ingin berteduh. Namun tak tahu di tempat siapa. Aku ingat satu hal. Rumah Dewi. Dewi langgananku bercinta sepertinya adalah pilihan yang tepat untukku melampiaskan emosi ini. Umurku baru menginjak tiga puluh lima tahun. Belum terlalu tua. Aku gagah. Wajahku sebenarnya tak terlalu buruk. Namun karena selalu marah, mungkin itulah yang membuat kebanyakan orang jera melihatku. Namun di mata Dewi dan gadis-gadis gelapku yang lainnya, aku tetap memiliki pesona tersendiri.

Gang sempit kulalui. Rumah Dewi ada di ujung sendiri. Dekat dengan pabrik kertas. Sayangnya jauh dari keramaian jalan raya. Dewi wanita tertutup. Dia pendiam dan acuh dengan warga setempat, namun jika bertemu denganku. Mulutnya bergerak penuh gairah. Wanita janda ini baru saja ditinggalkan suaminya pergi menggapai kehidupan yang abadi di surga sana setahun yang lalu. Belum mempunyai anak. Wajahnya cantik sementara tubuhnya masih seksi. Langganannya anak-anak SMA nakal dan Bapak-bapak yang lensanya jelalatan. Termasuk dengan diriku. Namun ada hal berbeda dariku. Jika aku mendekati dengan dirinya. Itu aku lakukan karena anak dan istriku bukan lantaran hawa nafsuku. Sementara sore ini, aku sengaja mampir ke rumahnya. Tak kuasa aku menahan lapar dan menahan dingin yang mengamuk tulang-belulangku. Rasanya akan hancur semuanya.

 

Kuketuk pintu bercat cokelat itu. Udara dingin dikuasai kabut. Pandangan yang sudah temaram bertambah tak jelas dua meter. Tak akan ada orang tahu jika aku masuk ke dalam rumah Dewi.

 

“Siapa?” respon Dewi seraya membuka tirai jendela dari samping pintu. Ia intip keluar. Sorot matanya kutikam dengan kornea mataku. Ia tersenyum penuh arti lalu bergegas membukakan pintunya.

 

“Heh, kau. Sayang. Ah aku sudah lama merindukanmu, kenapa tak kasih kabar jika akan ke sini? Dan kenapa harus hujan-hujanan? Sepertinya kau tipe pejuang untuk mendapatkan cinta. Hahaha,” ia terkikik. Kedua tangannya dilingkarkan di lehernya.

 

Aku tersenyum sinis. “Bisakah kau izinkan aku masuk?” kataku datar. “Aku kedinginan.”

 

“Tentu, kau mau masuk ke mana? Kamar atau ke ruang tamu?”

 

Seperti itulah watak Dewi jika ada di hadapanku. Sebenarnya aku muak dengan perbuatan ini. Aku juga lelah berteman dengannya. Tidur berduaan dengan istriku saja aku jarang. Apalagi dengannya. Rasanya ada duri yang menusuk nyawaku. Namun aku tak bisa menolak. Karena hanya dialah yang mampu memenuhi kebutuhan anak dan istriku.

“Hanya duduk. Tak lebih,” sahutku lalu masuk tanpa menunggu responnya.

“Kubukakan bajumu, kita bermalam. Kau kuberi hadiah. Lima ratus ribu untuk hari ini. Bagaimana?”

 

“Tawaran yang menarik.”

 

Malam larut dalam buaian kecup rembulan. Aku dan Dewi berpelukan mesrah di bawah taburan manik-manik bintang yang terselimuti kabut. Tak ada yang tahu jika waktu ini aku menangis sejadi-jadinya. Apalagi saat lampu kamar dimatikan. Tuhan! Lihatlah mataku.

Aku pinta ampun kepadamu. Apakah kau mau memafkanku yang bejat dan di mata orang lain bajingan ini? Aku yang kaya dosa karena selalu mabuk. Aku yang hina dipandangan anakku dan istriku serta keluargaku.  Sungguh tak pernah aku berniat melakukan ini. Namun kebutuhan keluargaku memaksaku untuk melawan kehidupan bejat tersebut. Aku terjerumus dalam kepahitan hidup. Aku bingung harus ke mana aku mengadu. Kenapa tak ada satu pun orang yang memahami aku? Mengerti keinginanku? Jelaslah mengapa kuteguk anggur untuk pelampiasan. Karena aku sadar aku tak pantas mendengarkan dongeng syairmu. Alunan ayat suciMu hanya membuatku terluka. Angin sampaikan pinta ampunku kepada anak dan istriku karena malam ini aku tidak pulang. Maaf. Jika Kau tak percaya permintaan khilafku ini. Maka, lihatlah mataku. Lihatlah mataku yang Kau ciptakan. SekaIi lagi ampuni aku.

Bersambung……..


Abdul Nazaruddin

Rujadi

H.Askar

Harris Pratama