Debu

oleh

Pagi usai malam tadi dibilas airmata langit. Udara sejuk dan melegakan pernapasan. Lengkingan toa surau menyeruak dalam keheningan. Menyemangati fajar supaya tertawa renyah di ufuk Timur yang sedang menggurat-gurat garis jingga, merah, abu-abu, di antara mega yang mewarnai langit menjadi rupa nan artistik. Bola api mengendap-endap di balik jutaan dedaunan di pedesaan. Sang malaikat pagi menyerutup semua air jernih dari awan-awan hitam, hingga sisa butirannya habis, jadilah pagi yang indah segar, tanpa adanya kabut yang melambai-lambai di permukaan perumahan. Kokok ayam menjinakkan daun telinga. Suaranya merdu memecahkan riak bungkaman dunia yang sepi dalam melantun kehidupan berpaling tabir mimpi. Memang benar subuh tadi mataku terbuka.

Retakan ke dua

Titin Widyawati

(Darah Mimpi)

Tapi ragaku masih terjaga. Aku belum mampu bangkit menelindas perih di dada. Entah mengapa jantungku serasa diremas-remas oleh tangan malaikat maut. Napasku sesak tak terkira. Aku menggigil karena angin pagi menyetubuhi setiap lekuk tubuhku yang tak diselimuti kehangatan. Masih setia terlentang di atas sajadah. Sinar mentari masuk ke dalam rumah, membentuk lorong lentera dari sibakan tirai jendela, yang di dalamnya tampak berterbangan nebula-nebula. Jelas sekali telingaku menangkap teriakan-teriakan burung di luar sana. Tak kuat kutahan nafsuku yang ingin segera mencium mawar merah di halaman rumah.

Saat embun masih menjamah keperawanan mawar di setiap lekuk kelopak tubuhnya yang mekar, kupikir itulah di saat indah bunga taman menghiasi rumah sang tuan, ditambah dengan percikan siluet merah di sebelah Timur. Akan sangat menampilkan pesolek tubuh alam yang menggiurkan para seniman. Sayang, aku bukan seniman. Jadi tak pantas kuas kucumbui tubuhnya dengan sentuhan jemari tanganku.

Satu jam kuatur napasku agar tak tersendat-sendat. Stevan Hawking adalah ilmuwan Fisika yang cacat, namun ilmunya mendunia. Bahkan ia berani menentang pendapat dosen ternama. Aku berpikir sejenak menikmati degup jantung waktu yang memelototiku garang dari dinding berlapis warna ungu itu. Suaranya seolah ingin menyamai keluarnya nada jantungku yang tak beraturan. Aku haruslah bangkit dan menjatuhkan lawan penyakitku agar ia mampus, hingga tak mampu menggoda nyawaku kembali. Tak bisa aku dikalahkan seperti ini. Aku tidak terima. Kuremas ujung sajadah.  Kukumpulkan tenagaku yang ditimbun derita fisikku. Retinaku menatap lorong ranjang dengan lekat.

Aku akan mencontoh Stevan dan Nabi Muhammad yang selalu menderita namun mempunyai semangat kuat untuk mengarungi kehidupan yang bodoh serta sesat. Kupikir penanaman pendidikan yang akan paling memengaruhi pola pikir sampai ke tahap dewasa adalah taman kanak-kanak. Jika lingkungan mendukung dengan baik, maka terciptalah pemuda yang berkarakter cerdas. Namun usainya tak boleh mengendap dalam kurungan pendidikan yang salah, jika iya. Jangan harap penerus bangsa bisa berjiwa nasionalisme, patriotisme, apalagi kalau sapa ucap tak pernah dijaga sebaik mungkin agar nikmat didengar telinga. Itu presepsi jiwaku, entahlah dengan Anda. Jadi, kunci utamanya aku bangkit lantas menuntun langkah menuju TK.

“Aku tidak ingin terus berkutat dalam pesakitan ini, aku akan beranjak dan berangkat ke TK, tidak boleh aku rapuh seperti ini. Tidak boleh!!!” jeritku walau suaraku terdengar parau. Sembilan belas tahun amatlah muda dalam kematian. Aku tak pantas digerogoti rayap. Aku harus bangkit.

Kali ini pandanganku menoleh ke arah daun pintu yang tak disentuh siapa pun. Adikku, atau bahkan ibuku. Kemana mereka? Kenapa tak coba menengok ke dalam kamarku? Aku sakit, ibu!

Waktu! Dengarkan aku. Aku tak berkata dusta. Dadaku panas dibakar derita. Napasku sesak tiada terkira. Kepalaku bak diamuk khodam neraka. Tangan kiriku sakitnya membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Pandanganku tak terlalu jelas dan samar-samar beranak dua. Ada apa ini? Kenapa aku selemah ini? Waktu! Jika kau punya bibir yang menandingi seksinya pelacur. Ciumlah aku! Lumatlah lidahku dalam keharmonisan cintamu yang memabukkan. Buatlah aku lupa akan luka ini. Hingga hasilnya aku akan bangkit dan melambai daun pintu itu. Kumohon, dengarlah jerit napasku yang sekarat menjarah langkah esok ciptaan Tuhan.

Aku ingin bangkit. Melihat nuansa taman kanak-kanak di samping rumahku. Bukankah kau telah sepakat dengan Tuhan untuk menakdirkan hidupku bergurau dengan cinta kasih yang kutabur dalam mata-mata belia? Mengapa kau amat membuatku menderita. Sampaikan salamku kepada Tuhan, katakan kepada-Nya. Aku pagi ini ingin bangun dan mendirikan salat usai membasuh raut wajah yang kaya dosa ini dengan wudu. Tolonglah berikan aku kekuatan. Seruan azan sudah sejam tadi menembus kedengkian jiwaku. Aku rindu mengeluh kepada-Nya dalam sujud sadar tak ada apa-apanya, serta lumuran kesucian tetesan air Bumi. Bisakah kau membantuku? Kumohon!

Aku dibakar emosi yang menggoyak kesadaran pikirku. Seakan-akan ingin aku cambuk Tuhan yang menciptakan dunia ini, tak rela fisikku diperlakukan seperti ini. Tapi apalah diriku yang lemah tiada arti. Aku sadar Tuhanku adalah maha pengasih dan penyayang. Jika aku berani mencambuk Tuhanku, itu artinya aku sudah lebih kuat dari Tuhan. Sayang, aku segumpal daging yang menjijikkan. Selayaknya aku pejamkan mata dan pasrah dengan buaian takdir.

Tak boleh aku protes menggemakan seruan keluh dengan menyalahkan Tuhan. Jika itu terjadi, layaknya neraka akan melumat habis jantungku, kemudian mengembalikannya lagi, usainya melumatnya kembali. Itu amatlah mengerikan. Santapan ular-ular penghuni neraka. Jangan berpikir securam itu. Membuat nyaliku ciut dan imanku bertekuk lutut di hadapan dosa.

Kini aku tertahan dalam kurungan waktu yang menjerat nyawaku. Merangkak tak mampu, bangkit adalah hayalan semu. Merataplah aku di atas gejala maut yang memabukkan kehidupanku.

            “Mas Tama, bangun!” sayup-sayup kudengar pekikan suara dari luar. Itu pasti adikkku ,Faisal. “Antalkan aku ke sekolahan, Mas!” vokal ‘R’nya yang keluar tak jelas membuat waktu terkekeh.

Saatnya aku bangkit. Kuremas dadaku. Menguatkan diri. Lalu kupaksa badanku untuk beranjak. Demi Faisal. Adikku yang baru duduk di kelas TK B. Dia akan sangat kecewa jika aku tak mengantarkannya. Tentulah aku tidak akan rela melihat Faisal menumpahkan airmatanya di hadapan diriku.

Ya Allah yang menghamparkan langit dan mengendapkan bola cahaya di udara. Berilah secakup tenaga agar aku mampu berjuang menitik impian adikku tercinta. Aku ingin melihat puluhan tawa anak-anak belia di TK Assalima itu. Apakah Kau tega membiarkanku dikerubungi luka yang kian membuatku tertumpu pada ambang kedengkian duka yang sesat ini? Tidak bukan? Izinkan aku memandang langit ciptaan-Mu yang biru merekah dalam esok menanti cumbuan senja yang Kau lukis di ujung Barat. Kupinta dengan setulus jiwa. Masih tak percayakah Kau? Detak jantungku adalah saksinya.

“Mas Tama,” jeritnya lagi seraya menciumkan punggung tanganku di badan pintu.

“Mas Tama, bangun! Faisal mau sekolah. Faisal takut dihukum Bu Gulu kalau tellambat,” rengeknya.

Bola mataku menembak tatap ke arah permukaan pintu yang berpoles bedak cat cokelat pekat. Sebuah kayu pembatas ruang antara aku dan Faisal. Kayu yang membatasi tatap pandangku dengan Faisal. Kayu yang menghalangi batin nurani Faisal agar tersentuh membiarkanku terlelap dan berhenti merengek memintaku untuk mengantarkannya memeta jejak ke sekolahan.

AKU BANGKIT. YAH. ALLAHHU AKBAR.

Sajadah yang aku tiduri kusut. Tak kupikirkan hal itu. Aku menjangkau pinggiran ranjang sebagai penyangga tubuhku. Gemetar semua urat-urat yang melekat dalam dagingku. Keringat dingin mengalir di keningku. Lentera mentari menerangi perjuanganku dari jendela. Seolah kepakan sayap dua burung meledekku. Langit yang biru menjadi bigron kepedihanku. Di depan jendela. Di atas lembaran sajadah suci. Dengan pertolongan palang ranjang kasurku.

“Mas Tama!” semakin keras Faisal menjerit. “Antalkan sekolah!”

Aku tarik napasku dalam-dalam. Fisikku retak. Tapi hatiku tak boleh retak. Biarlah kugantikan lara punggungku dengan semangatku membasmi kebodohan. Aku akan bangkit. Kulepas genggaman tanganku pada palang besi. Aku berdiri  tanpa bantuan. Pening. Pusar udara menggelap. Berat kepalaku. Atap rumahku seolah retak lantaran dilanda gempa dalam kekelaman fisikku. Lantas menimbunku dalam kepingan plafon-plafon kamar yang pecah menjadi beranak-pinak.

“Mas Tama!”

Seruan Faisal seolah menjadi penyemangat jiwaku. Persetan. Aku melangkah ke depan dengan separuh wajahku yang pucat pasi namun memaksa tersenyum. Kuputar kenop pintu. Sosok tubuh mungil kini telah berdiri di ambang pintu. Pipinya menggelembung karena dipanggang murka, aku tak segera membukakan pintu. Ke dua tangannya berkacak pinggang. Tas gendong telah menyampir di punggungnya. Seragam biru tua berpadu dengan biru muda telah membungkus badannya. Rambut yang tersisir rapi. Sepatu yang bersih mengkilat-kilat, siap mengajakku berangkat ke sekolah. Tapi aku yang berdiri memasang wajah kuyu dengan kaos oblong tak rapi.

“Mas Tama, ayo sekolah! Sudah besalkok bangun telat!”

Aku tersenyum. Jongkok dan kucubit pipinya. “Sekarang baru jam enam, Mas Tama salat subuh dulu ya?”

“Kata Bu Gulu jam enam waktu subuh sudah habis,” ia tak mau dikalahkan. “Mas Tama pemalas!” Anak kecil suka berbicara jujur. Sayang, kejujurannya tak tepat dalam memandang diriku yang lemah ini.

“Yasudah Mas Tama, cuci muka dulu ya?”

“Tidak! Tidak mau, hali ini Faisal ada pelajalanolahlaga, pokoknya mau belangkat awal, bial disayang Bu Lita,”

Aku menyunggingkan senyumku dengan paksa. Kusuruh Faisal untuk ke depan terlebih dulu, sementara aku akan mandi dan salat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Pikirku gila.

Dosa akan merengkukku dalam panggangan api neraka. Tapi apalah dayaku yang tak mampu memungkiri kelemahan ini. Biarlah alam yang menjadi saksi bisuku. Justru aku ingin sekali datang menjemput suara seruan Tuhan pertama kali, sayang kau tahu bukan? Tadi subuh aku seperti apa?

Bersambung…

Titin Widyawati, penulis kecil dari Magelang.