DEBU

oleh

Melangkah di tepian jembatan dunia keabadian antara celah tabir impian. Aku tersenyum menatap parasku di depan cermin suci, memantulkan pesolek tubuhku nan indah dan tampan. Sayang, semuanya retak karena jiwaku rapuh dalam khayalan sketsa indah yang mustahil.

Tangan waktu melambai hidupku agar aku mampu bertahan menyongsong kehidupan. Demi mewujudkan kepuasan, meski jiwaku retak karena ocehan mereka yang menyebalkan. Sepertinya permainan retakan jiwaku akan menusuk ke sela-sela hati mereka yang hitam menjijikkan. Menghujam curam, menukik ke dalam. Lantas aku akan menguburnya dalam rerimbunan bangkai penyesalan.

Novel

Darah Mimpi

(Titin Widyawati)

Retakan 1

 Tuhan!

Aku muak dengan semua kehidupan ini. Tapi kurasa, tabah adalah sebuah jawaban. Biarlah aku dipeluk-Mu kala airmataku membuat kubangan danau kesedihan. Dan sakitku mengurangi dosaku yang setumpuk gunung, seluas samudera, selebar sabana di dunia.

Saat senja menyemburatkan aura kegelepan. Aku terkelepar dalam balutan mega yang sarat siksa. Jasadku meliuk-liuk di antara celah angkara yang merampok sebagian kehidupanku. Beriringan dengan airmata langit desember yang kupikir itu adalah sebuah anugerah. Membantu membuat sekujur tubuhku tersungkur dalam balutan hangat sang ibunda. Lemah di balik tawa rembulan. Rapuh layaknya kayu muda yang digerogoti rayap-rayap penuh nafsu ingin menggantung nyawaku. Sayang, aku bertanya pada waktu. Adakah kayu muda yang sudah disantap rayap dalam perjamuan senja? Kulitku hijau mulus. Daunnya masih segar dan meneduhkan pandang. Sinar mentari menyinariku dalam gelap atau pun terang.

Aku berdiri tegak mengambang dalam bentangan nirwana. Mengombak pada pusar gulungan kapas samudera, lari menampar karang yang berdiri angkuh penuh kuasa. Berbalik arah menjemput ledekan siluet esok yang mekar dalam keremangan bola api merah menyala, membelah Bumi Utara dan Selatan, menampakkan aura cinta yang mampu menekukkan setiap dawai-dawai rindu pelipur lara. Langit disinggahi awan-awan pucat yang hitam jahat. Guntur bersahut-sahutan menyambar tiang listrik. Hujan memengaruhi keindahan alam menjadi buruk.

Jika aku di tepian pantai, maka ombak akan membunuhku dalam tenggelam sia-sia. Jika aku berdiri di bawah tebing pegunungan, lantas longsor akan meremukkan syaraf-syarafku dalam tetimbunan ranah pertiwi yang busuk, lembek bercampur dengan air yang suci dari langit, tanah menjadi gembur dan tak mampu  menguarkan pondasi alam, pohon tumbang akan menjambak nyawaku dalam kegelapan.

Lantas aku lari dalam bayang-bayang kabut neraka yang sebentar lagi akan menjarah ramuan dosa dalam panggangan api murka. Beruntunglah waktu tak meletakkanku di garis pantai atau di bawah tebing saat reruntuhan air langit itu menyambar-nyambar udara yang dingin. Jatuhnya airmata langit bagaikan bunga mekar, usai mencium aspal atau atap perumahan lalu memantul ke atas, tak percayakah kau? Coba amati dan pahami jatuhnya airmata langit. Aku yakin, kau akan mengiyakan pendapatku.

Kini aku menepi dalam celah jendela. Menyibak tirai dalam kegelapan malam. Lampu kamarku remang. Hanya tersisa lentera dari lampu jamur sebelah ranjangku yang masih memeta kehidupan dalam jejak kepedihan. Di luar sana tetes-tetes air merembas ke tanah halamanku yang tak terlalu luas. Bebungaan Gelombang Cinta, Pohon Kersen, beberapa populasi mawar serempak meneteskan embun dari ujung dedaunan yang hijau segar.

Hijau namun tampak hitam oleh ekor mataku, keterangan halaman tak terlalu jelas karena hanya disorot lentera pantulan dari dalam rumahku. Gerbang masuknya yang dicat darah, memantul hitam pula. Kabut tampak dalam pandangan empat meter. Hujan menjilat-jilat kedamaian jiwa insan. Malam ini. Pukul 12:00 tepat. Pergantian antara pagi dan kelam, memantul jelas di lensaku. Tanpa adanya senyum rembulan, atau bahkan kerlipan sang bintang. Dan waktu menemaniku kalut dalam pesakitan.

Sesak napasku. Punggungku dirombak rasa sakit yang membuatku tak berdaya. Sekarat ditenggak darah dan nanah. Luka pada ginjalku yang memuakkan. Harus aku bertahan hidup dalam garis merah kelemahan fisikku. Bedebah! Inikah takdir yang akan melukiskan suka citaku dalam derita rindu meneguk kemanisan masa depan. Aku Dewa Pratama, sosok pemuda berumur sembilan belas tahun. Lahir di Magelang. Selalu salah dipandangan saudara. Dikatakan salah dalam melangkah. Salah pula dalam bersigap diri dengan masa depan.

Mereka pikir aku pecundang yang tak bisa apa-apa. Lemah dalam hidup yang selalu ditopang oleh selang oksigen. Aku sekarat. Dalam guliran detik waktu yang membuatku buncah kaya malapetaka. Mendekati mati lantaran sakit punggungku yang amat menjinakkan keberanianku agar mampu bertahan hidup. Dan malam ini, apakah kau tahu, Kawan? Aku duduk mematung bersaksikan muka jendela menatap luar yang hujan dalam rintih batinku yang menderita. Sakit sekali punggungku. Ada apa ini dengan ginjalku? Aku muak diperlakukan seperti ini terus-terusan. Kapankah aku akan mati? Jika memang itu yang terbaik dan dosaku telah dikubur di balik mega. Baiklah! Aku siap tersungkur dalam jutaan butiran tanah yang akan menimbunku bersama cacing dan belatung. Kumohon dengar pintaku dalam caciku.

Tuhan!

Aku ingin sembuh.

Airmata menyengat keheningan. Aku dibalut luka dalam yang amat menggiurkan dosa agar aku berontak kepada takdir. Sayup-sayup mataku mulai tergambar. Dalam cekungan letih bergurat gelombang hitam di bawah korneaku. Aku yakin, aku butuh istirahat panjang untuk menjamah kehidupan. Sayang berbaring pun aku tak tenang. Tubuhku rontok dilolosi pesakitan. Belum lagi napasku yang tersendat-sendat. Aku dirajam panas, nyeri, pegal, tak nyaman bergerak, melangkah seolah nyawaku akan retak, kepalaku dijerat berat berkilo-kilo gram.

Aku limbung mencium lantai kamar. Tubuhku merosot dari dudukan kursi. Ia roboh ke samping. Menghadap ranjang, mataku mencengkeram ledekan malam. Kupegangi punggungku yang sakit tak tertahankan. Aku menjerit saat terkelepar di atas lantai menatap lorong ranjang.

“Ibu, sakiiittt!!!” dan bantal-bantal yang mendengarkannya. Riak-riak hujan membungkam telinga ibuku. Ia tuli sesaat. Sementara aku sekarat.

“Ibuuuu…. tolong aku!” kembali aku memekik dalam lolongan malam.

“Sakit, Bu.” Kataku bercampur tetesan airmata.

Tak ada yang mampu mendengar. Semuanya terlelap dalam balutan surgawi mimpi. Entah adik kecilku, atau malaikat penjagaku. Ini adalah hal yang memuakkan. Saat sakit dan tak ada yang mendengarkan jeritan pertolonganku.

Sejenak mataku melirik ke samping ranjang. Permukaan lantai digelari sajadah. Kuseret tubuhku mendekatinya. Aku berusaha sekuat tenaga agar mampu singgah di lembaran suci nan berlukiskan sketsa kabah. Jika tidak, tubuhku akan bertambah terluka, dinginnya permukaan marmer akan senantiasa mengelupas perjuangan napasku yang tersengal-sengal. Kini, aku bagaikan nyawa lemah yang lumpuh dan tak mampu beranjak.

Di atas sajadah aku berusaha bangkit sekuat tenaga. Ingin aku dudukkan ragaku menghadap kiblat. Mengadu keluh kesahku terhadap pencipta hidupku. Kutopang berat tubuhku dengan ke dua tanganku, sayang semakin kuperkuat aku malah semakin sekarat. Tulang-tulangku berontak lemas tak aturan. Aku tetap tersungkur di atas permukaan sajadah dengan siraman lentera remang jamur di atas meja belajarku. Tuhan! Inikah kehidupanku? Mengapa begitu getir dan tragis. Apa yang akan Kau janjikan di akhir hidupku? Dalam hati aku memekik.

“Kuikhlaskan penderitaan hidupku dari-Mu. Tapi ingat Tuhanku, wahai pencipta alam semesta Allah SWT, aku ingin semua impianku tercapai. Jika tidak! Aku tak rela Kau buat aku menderita seperti ini. Aku tidak rela! Aku ingin hidup untuk meneguk aroma anggur kebahagiaan yang memabukkan. Kau tuang penderitaan dalam beningnya arak yang menjijikkan, kupikir kelak Kau akan menggantinya dengan anggur hitam yang nikmat. Bukankah begitu, Tuhan? Kumohon, dengarlah luka hatiku yang Kau gerogoti ini. Di mata-Mu aku mampu mengemban semua ujian ini, tapi di mata takdirku aku limbung dalam candi kehidupanku yang retak dihantam palu dari batu. Hancur lebur ditimbun sangkar derita pesakitan. Aku lemah dalam kegelapan.

Resah dalam menanti muara kasih-Mu yang belum mampu kutuai dengan mata telanjangku. Meski batinku selalu menjerit, Allah amatlah sayang kepadamu, jadi Ia mengujimu sampai seberat ini. Tapi aku tetap tak mampu mendengarnya dengan cinta. Kuabaikan pekikan batin, aku lari ke arah angkara durjana yang menyesatkan kehidupan.

Dalam percakapanku dengan-Mu malam ini, kan kutoreh bait-bait hidupku kala remangan senja nanti akan menjadi saksi, dan saat esok menengahi. Sajakku menghantarkanku dalam keabadian surga di masa depan. Biar kulukis senyum di balik tirai mentari yang kabur. Sekali lagi, Tuhan! Aku rela Kau buat aku menderita, asal pandangan mereka menjadi lunak dan aku mendapatkan apa yang kupinta.”

Hujan menjadi melodiku menghantarkan lelap dalam doaku kepada-Mu. Dingin melambai-lambai kejernihan syaraf pikirku. Akhirnya aku lelap di atas sajadah, menghadap ke kiblat, dengan tangan bersedekap, tubuh terlentang, usai kubercakap dengan Tuhanku. Terimakasih malam, kau mau menemaniku dalam penderitaan. Luka fisikku kutahan. Coba kunikmati saja dalam candu kegelisahan yang mendalam. Bisakah esok nanti aku kembali menatap pelangi? Sepertinya esok tak akan ada pelangi. Entahlah. Yang jelas, inilah aku Dewa Pratama.

Bersambung….

Darah Mimpi bernama asli Titin Widyawati,  pernah menerbitkan empat novel dan sebuah antologi cerpen, 2017 menerbitkan novel dengan judul J.E.J.AK. (Proses cetak). Selain menulis novel, ia juga sering menulis cerpen dan puisi.